Tujuh perupa, dengan identitas visual yang saling berseberangan, berpameran bersama. Ya, mereka berpameran bersama, namun tidak dalam pengertian satu kelompok. Di bawah tajuk pameran “Seven Lights”, ketujuh perupa yang terdiri dari Agus Purwadi, Andre Suryaman, Dewa Made Mustika, Imron Syafei, Tarman, Yarno, dan Yerry Padang, memamerkan karyanya sepanjang 21 Maret hingga 7 April 2010 di Galeri Apik, Plaza Radio Dalam 3A, Jalan Radio Dalam Raya Jakarta.
Sampai di sini, jelas terbaca, kurator Afnan Malay seperti sengaja menyatukan keberagaman identitas khas setiap perupa tersebut dalam format “kelahi piktografis”. Kita tahu, di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) disebutkan, kata “piktograf” berarti gambar atau lambang yang mewakili sebuah gagasan. Tentu saja, istilah “kelahi piktografis” di sini mengandung maksud pertarungan gambar yang merupakan gagasan substantif dari tiap orang yang terlibat. Keberbedaan gagasan personal sebagai identitas visual antarperupa justru merupakan aspek pembacaan yang menarik dielaborasi.
Agus Purwadi, misalnya, lebih suka mengeksplorasi gagasan personal tentang telur yang bisa diasumsikan sebagai simbol harapan. Dalam sejumlah lukisannya, telur yang secara filosofis membawa pesan jika kelak pecah maka akan memberikan manfaat besar tersebut, terolah secara artistik dalam berbagai posisi. Ada yang berada di dalam botol plastik air mineral, seolah menjadi rebutan antardua orang anak, dan yang lain. Sementara itu, Yarno lebih memilih identitas visual berupa gambar binatang rusa dengan berbagai ragam visualisasi deformatif: gambar kepala rusa namun kakinya abstrak, seperti kaki kursi, contohnya. Ia bagai memuat pesan moral berupa isu lingkungan: perihal ketercerabutan habitat binatang langka tersebut dalam konstelasi alam yang kompleks.
Ada lagi Yerry Padang yang menjatuhkan gagasan invidualnya pada sosok para pemain bola. Karya-karyanya nampak memuat pesan infantilis: dunia permainan bola sebagai alter ego masa kanak-kanak. Yerry pun membumbui capaian visualnya dengan pendekatan non-realis, yakni cenderung surealistik. Berseberangan dengan Yerry, Imron Syafei lebih percaya pada semiotika badut dan angka dalam karya lukisannya. Seperti mendedahkan pesan bahwa hidup memang cuma “berjudi nasib”: pergulatan antara permainan dan pertaruhan keberuntungan.
Lebih dari itu, karya Dewa Made Mustika, terlihat bersifat reflektif. Mempersoalkan perihal ekologi bumi yang mengalami revitalisasi lewat ikon pepohonan. Disusul Tarman yang menyukai visualisasi keterasingan lewat gambar pengemis dan Andre Suryaman lebih condong pada gagasan sublimasi spiritualitas lewat penggambaran bukit Jabbal Nur maupun Hajar Aswad.
Secara implisit, secara kuratorial, upaya mempertarungkan ketujuh perupa ini juga bisa dibaca dalam sejumlah ranah analisa. Pertama, membuat alternatif pembacaan secara estetik, apakah antara mazhab estetik Bandung dan Yogyakarta, tetap saja mempunyai perbedaan. Kedua, pameran ini juga menjadi momentum penancapan citra identitas dari masing-masing perupa yang tak semuanya cukup populer diterima publik.
Pada analisa yang pertama, Andre Suryaman adalah perupa yang notabene lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB), sedangkan perupa lainnya berproses di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Pendekatan analisa latar perguruan tinggi semacam ini tetaplah penting dikedepankan sebagai alternatif ragam pencapaian pada setiap ”kubu” mazhab estetik. Walhasil, dalam konteks pameran kali ini, dalam segi kematangan skill bolehlah dikatakan sama.
Sementara itu, pada analisa yang kedua, upaya menemukan inovasi identitas visual dengan wujud keberbedaan menunjukkan kecerdasan pengambilan objek yang spesifik. Memang, sebaiknya, inovasi visual para perupa tidaklah terjebak pengulangan dengan yang dimiliki perupa lain. Sejumlah perupa di dalam pameran ini membuktikan, kemungkinan pengulangan yang memubazirkan sikap apresiatif tampak sudah terbuang jauh.
Secara pribadi, saya menyukai pameran ini karena sudah jelas menjauh dari tema-tema utopis, misalnya soal respon kondisi sosial-politik—Sesuatu yang sudah amat tumpah ruah dan dalam sisi tertentu akan menjebak pada kekonyolan visual yang tentu saja tak perlu lagi dirambah, bukan? Kenapa? Estetika berbasis respon kondisi sosial-politik jelas lebih banyak membuka kemungkinan adanya verbalitas visual. Untuk tema semacam itu, saya melihat cukup banyak perupa Indonesia yang terjebak pada verbalitas, sehingga menjadikan karyanya tak berbeda jauh dengan demonstrasi harian yang sebetulnya sebagian besar selalu menerima bayaran itu.
Dengan kata lain, catatan penting yang layak digarisbawahi atas keberadaan pameran ini adalah pada kemauan yang gigih dari masing-masing perupa dalam mengaduk potensi individualnya, sehingga termaksimalkanlah eksplorasi identitas estetik yang tertemukan. Saya melihat, pilihan atas identitas visual telur, angka, dan pemain bola, merupakan pilihan identitas visual yang relatif otentik. Kalau pun ada perupa lain yang pernah mengerjakan, maka nilainya niscaya hanya sebagai sampiran dalam keseluruhan target visual di satu bidang kanvas.
Mudah-mudahan pameran ”kompetisi tujuh perupa” ini kelak bakal berhasil menunjukkan kepada publik tentang konsistensi ideologi visual masing-masing individu. Sungguh, nilai kehadirannya bakalan berbeda jika yang digelar adalah pameran berkelompok sebab pada pameran berkelompok biasanya sudah mempunyai ideologi yang sama. Sehingga, relatif tidak ada persaingan yang bersifat konstruktif di dalamnya.