|
|
|
|
| :: Anda berada di halaman: Dari Pembaca - Edisi: 119/XI/2010 |
|
| 1. |
Tentang Sorot 118
Hai Gong, ijinkan aku memberikan komentar untukmu.
Menyimak rubrik Sorot Majalah Gong Edisi 118, pada artikel berjudul Inisiasi: Pertaruhan Simbol dan Harapan, pembaca dibawa tamasya ke ruang keberagaman suatu peradaban manusia. Ritus inisiasi yang menjadi tradisi pada setiap kebudayaan, khususnya peradaban masyarakat multikultural kita, dikupas kemudian dipertanyakan kembali seiring dengan semangat kemajuan zamannya.
Membaca artikel tersebut, kita serasa dihadapkan pada cermin bahwa banyak cara yang dilakukan manusia guna menempuh kesucian dalam mencapai suatu legitimasi derajat manusia. Akan tetapi sifat sakral yang terdapat dalam ritus inisiasi itu kemudian terkikis oleh sesuatu yang profan akibat dari ulah manusianya juga.
Beberapa artikel yang termuat pada rubrik Sorot tersebut kiranya dapat menjadi acuan seputar wacana antropologi seni maupun budaya, karena sifatnya lebih ke arah objektivitas suatu jurnalisme daripada esai yang berisi pendapat subjektif saja.
Terima kasih. Maju terus, Gong!
Kuncoro Hadi Sutrisno
Jl. Tisnonegaran No. 1 Kec. Mayangan, Probolinggo Jawa Timur |
|
|
|
| 2. |
Bersyukur ada Gong
Bersyukur ada majalah semacam Gong yang sangat jarang di Indonesia. Keberadaan majalah Gong menurut saya sangat penting seperti kamus kesenian Indonesia, sangat membantu para penggemar, pengamat, dan pelaku seni. Ulasan yang disuguhkan oleh Gong menjadi lebih menarik jika dibanding dengan ulasan kesenian di majalah umum lainya, karena Gong tidak hanya sekadar memberi berita. Gong juga mampu menyentuh wilayah-wilayah kritik, sehingga cukup dapat memberi masukan dan koreksi bagi pelaku seni.
Majalah ini menjadi salah satu pemberi wawasan, penyegar, dan referensi berupa ide-ide dari berbagai bentuk kesenian. Dan akan lebih baik lagi, menurut saya, jika Gong juga menyentuh berbagai kalangan, termasuk generasi muda yang memiliki mind setting Barat agar mengenal lokalitas budayanya, juga penikmat seni lokal agar juga mengerti sampai di mana arus Barat di Indonesia. Untuk kemajuan Gong agar tetap diminati oleh berbagai kalangan, saya menyarankan:
1. Sebaiknya tidak hanya memperbanyak ulasan tentang seni pertunjukan, tetapi juga rupa dan cagar-cagar budaya.
2. Bagaimana kalau Gong juga memasukkan kebudayaan atau kesenian dari luar negeri dengan prosentase yang lebih kecil dibanding dengan kesenian lokal, setidak-tidaknya bisa memberi kita sedikit gambaran kesenian tradisi di luar Indonesia.
3. Sebaiknya juga menyorot pada seni-seni urban (berbasik Barat) yang sedang marak di kalangan generasi muda. Bukan untuk menghilangkan kekhasan Gong, tetapi sekadar untuk bertukar pikiran dengan pelaku seni urban di Indonesia.
Semoga Gong selalu dapat mewakili masyarakat seni Indonesia.
Dyah Murwaningrum
Mahasiswi Pascasarjana Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gajah Mada Yogyakarta
Red: Terimakasih untuk saran dan masukannya. Beberapa hal di antaranya telah kami lakukan, tentu dengan cara pandang redaksi kami. |
|
|
|
|



| |
|
|
|
|
| |
 Gerak Lucu Wayang Golek |
 Gerak Mulut Wayang Sasak |
| |
 Sekar Diu - Wayang Sasak |
 Topeng Cupak |
|
|
|