Beranda Tentang Kami Hubungi Kami Agen/Distributor Berlangganan Galeri Foto Merchandise Polling Blog Edisi:    
Selamat Datang di situs GONG, media seni-budaya Nusantara. - Di sini kami menyediakan pelbagai informasi, yang mudah diakses. - Saran dan kritik Anda kami tunggu, silakan klik HUBUNGI KAMI.
  Fasilitas Pencarian: advanced search Selasa, 7 September 2010 | 06:27 WIB
 RUBRIK UTAMA
   Salam Budaya
   Dari Pembaca
   Sorot
   Sosok
   Wawasan
   Media
   Ensiklopedi
   Resensi
   Bingkai
   Panggung
   Sastra
   Anjungan
   Laku dan Cerita
   Tatap

 SOSOK
Pendidikan Untuk Penonton

 BINGKAI
Bantengan

 Polling
Jika Anda pembaca Gong, tulisan tentang apa yang paling diminati?
Wawasan kebudayaan melalui kajian seni
Berita keberagaman seni lokal
Kesenian dalam kehidupan masyarakat
Review dengan pendekatann estetika
Seni lokal yang diolah menjadi komersial
 

 Lihat hasil...

 
:: Anda berada di halaman: Ensiklopedi - Edisi: 119/XI/2010

Foto: 01  02  
Delta Blues dan Tangan Adrian
Oleh: Herman WK, Pekerja Seni, tinggal di Yogyakarta.

Delta blues adalah satu khas musik Afro-Amerika yang biru. Andrian, seorang gitaris asal Jogja, memilihnya sebagai identitas berkarya.

Membicarakan blues memang tidak bisa lepas dari latar belakang sejarahnya. Dari akar Afro American music, berkembang menjadi bermacam genre musik. Sejarah mencatat gelombang eksodus besar-besaran, dari Afrika melintasi Eropa awal abad 19. Memunculkan reduksi budaya bagi masyarakat pelakunya. Sesampainya di daratan Amerika, serapan ide kreatif mereka berkembang. Di seputar delta Missipi blues menggeliat. Kondisi sosial saat itu menempatkan masyarakat Afrika di Amerika sebagai kelas pekerja (budak). Hal tersebut tidak membatasi mereka, untuk menuangkan kegelisahan rasa dalam sebuah ekspresi. Musik blues sangat kontekstual sebagai nyanyian disaat ketertekanan menjadi irama hidup.

Adrian Adi Oetomo memilih delta blues sebagi identitas dalam berkarya. Proses Adrian mengenal blues cukup unik. Dari classic rock, punk, metal sampai grunge sudah pernah di cicipi. Sampai ketika Adrian studi di negeri kangguru ia jatuh cinta dengan musik blues. “Blues mewakili taste ekspresif dan bernuansa serem,” kata Adrian.

Menurut Adrian memainkan delta blues, secara teknis, memang berbeda dengan musik blues kebanyakan. Sebagai sebuah genre, ia bisa disebut pionir dalam root keluarga blues. Pemain delta blues selalu menjadi solis, dengan instrument resonator gitar  berikut propertinya. Untuk memaksimalkan ekspresi, pemahaman organologi instrumen mutlak dikuasai.

Spesifikasi delta blues dengan resonator gitar menuntut pemainya untuk lebih teliti. Dalam hal ini interaksi player dan instrument tidak bisa hanya seperti pemain gitar pada umumnya. Seluk beluk resonator gitar yang unik harus dipelajari secara detail. Mulai dari pemilihan senar sampai pada penggunaan resonator sebagai ruang akustik. Pemilihan senar serta tuning akan berpengaruh pada produksi suara secara keseluruhan. Adrian sendiri dalam mendapatkan resonator pilihanya melalui proses panjang. Gitar resonator Adrian didapat dari seorang kolektor gitar di Amerika.

Tehnik permainan pada resonator gitar, juga menuntut adanya properti tambahan. Di sini nada diproduksi dari petikan menggunakan finger picking pada jari kanan. Biasanya finger pick ini terbuat dari logam berbentuk cincin. Sedangkan jari kiri menggunakan slide (berbahan logam) dengan tehnik glisando. Akurasi pergeseran slide harus presisi, untuk menghindari cacat nada (out of tune). Sebuah referensi menyebutkan, awal kemunculan slide dikenal dengan bottle neck slide.  Botlle neck digunakan para pemain delta blues era awal 1900-an.

Gitar resonator sebagai senjata andalan Adrian dibuat tahun 1932. Steel guitar yang diperoleh tahun 2007 tersebut menjadi kawan setia Adrian dalam berkarya. Perawatan gitar tersebut perlu perhatian ekstra oleh empunya. Untuk penggantian spare part atau jika terjadi kerusakan, Adrian menyerahkan pada guitar repairment di Austaralia. Bukan persoalan prestis, tetapi di negeri kita belum ada expert guitar repairment untuk resonator. Steel guitar, atau resonator lebih popular disebut Dobhro di kalangan bluesman. Dobhro adalah kependekan dari Doopyera brothers. Adalah Jhon Doopyera, penemu tehnologi resonator sebagai sumber akustik. Di mana sound diproduksi oleh resonator berbentuk corong dengan bahan spun metal . Jenis conus resonator yang digunakan termasuk single inverted cone.

Selain steel guitar, Adrian juga menggunakan guitar resonator berbodi kayu juga kuningan. Steel guitar milik Adrian telah mengalami modifikasi. Penambahan pick up magnetic membantu Adrian memproduksi suara yang diinginkan. Hal ini dilakukan untuk mempermudah saat pentas. Prinsip dasar akustika selain dari resonator juga terdapat f hole yang memungkinkan untuk di-micking. Selain efek guitar standar, Adrian menggunakan stomp board. Instrument tambahan dimainkan dengan kaki diketukan. Bahan dasar dari kayu, bentuk fisik seperti dingklik kecil (tempat duduk: Jawa). Instrument ini berfungsi sebagai penjaga beat, sekaligus pembentuk ritme dalam range frekwensi rendah. Kata Adrian, penggunaan stomp board dulu menggunakan salah satu lantai kayu teras belakang.



 







SPECIAL EVENTS


AGENDA BUDAYA

  • Festival Benteng Ungaran 2010
  • Jagongan Media Rakyat 2010
  • Teater Malam Jahanam
  • Atraksi Seni Peringatan Satu Tahun Madya - (REVIEW)

  • INFO BUKU
     

    Kumpulan Esai Riau Pos

    Riak Lara Pantai Demak

    Antologi Obrolan

    Antara Panjak Hore dan Rock Progresif

    NEWS

  • Dedikasi dalam Imaji I Wayan Rai
  • Berlalunya Sebuah Era?
  • Seniman Sapto Raharjo Wafat
  • Obituari: Seniman Sapto Rahardjo Berpulang
  • Seniman Gamelan Sapto Rahardjo Meninggal Dunia

  •  
     GALERI FOTO
     

    Gerak Lucu Wayang Golek

    Gerak Mulut Wayang Sasak
     

    Sekar Diu - Wayang Sasak

    Topeng Cupak


      Copyright © 2008 Majalah Gong
      Jl. Nitikan Baru, Gang Aries No. 46, Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta 55161
      Telp/Fax: +62-0274-370830 | 081568445708
      E-mail: redaksi@gong.tikar.or.id

    Developed by: Satya Adirimata +62 818 650771, +62 21 991 45561. Email: adirimata@yahoo.com