Membicarakan
blues memang tidak bisa lepas dari latar belakang sejarahnya. Dari akar Afro
American music, berkembang menjadi bermacam genre musik. Sejarah mencatat gelombang
eksodus besar-besaran, dari Afrika melintasi Eropa awal abad 19. Memunculkan reduksi
budaya bagi masyarakat pelakunya. Sesampainya di daratan Amerika, serapan ide kreatif
mereka berkembang. Di seputar delta Missipi blues menggeliat. Kondisi sosial
saat itu menempatkan masyarakat Afrika di Amerika sebagai kelas pekerja
(budak). Hal tersebut tidak membatasi mereka, untuk menuangkan kegelisahan rasa
dalam sebuah ekspresi. Musik blues sangat kontekstual sebagai nyanyian disaat ketertekanan
menjadi irama hidup.
Adrian Adi Oetomo
memilih delta blues sebagi identitas dalam berkarya. Proses Adrian mengenal
blues cukup unik. Dari classic rock, punk, metal sampai grunge sudah pernah di
cicipi. Sampai ketika Adrian studi di negeri kangguru ia jatuh cinta dengan
musik blues. “Blues mewakili taste ekspresif
dan bernuansa serem,” kata Adrian.
Menurut Adrian
memainkan delta blues, secara teknis, memang berbeda dengan musik blues kebanyakan.
Sebagai sebuah genre, ia bisa disebut pionir dalam root keluarga blues. Pemain delta blues selalu menjadi solis,
dengan instrument resonator gitar
berikut propertinya. Untuk memaksimalkan ekspresi, pemahaman organologi
instrumen mutlak dikuasai.
Spesifikasi
delta blues dengan resonator gitar menuntut pemainya untuk lebih teliti. Dalam
hal ini interaksi player dan instrument tidak bisa hanya seperti
pemain gitar pada umumnya. Seluk beluk resonator gitar yang unik harus dipelajari
secara detail. Mulai dari pemilihan senar sampai pada penggunaan resonator
sebagai ruang akustik. Pemilihan senar serta tuning akan berpengaruh pada produksi suara secara keseluruhan.
Adrian sendiri dalam mendapatkan resonator pilihanya melalui proses panjang.
Gitar resonator Adrian didapat dari seorang kolektor gitar di Amerika.
Tehnik
permainan pada resonator gitar, juga menuntut adanya properti tambahan. Di sini
nada diproduksi dari petikan menggunakan finger
picking pada jari kanan. Biasanya finger
pick ini terbuat dari logam berbentuk cincin. Sedangkan jari kiri
menggunakan slide (berbahan logam) dengan
tehnik glisando. Akurasi pergeseran slide harus presisi, untuk menghindari
cacat nada (out of tune). Sebuah
referensi menyebutkan, awal kemunculan slide dikenal dengan bottle neck slide. Botlle neck digunakan para pemain delta blues
era awal 1900-an.
Gitar
resonator sebagai senjata andalan Adrian dibuat tahun 1932. Steel guitar yang diperoleh tahun 2007 tersebut
menjadi kawan setia Adrian dalam berkarya. Perawatan gitar tersebut perlu
perhatian ekstra oleh empunya. Untuk penggantian spare part atau jika terjadi kerusakan, Adrian menyerahkan pada guitar repairment di Austaralia. Bukan
persoalan prestis, tetapi di negeri kita belum ada expert guitar repairment untuk resonator. Steel guitar, atau
resonator lebih popular disebut Dobhro di
kalangan bluesman. Dobhro adalah kependekan
dari Doopyera brothers. Adalah Jhon
Doopyera, penemu tehnologi resonator sebagai sumber akustik. Di mana sound diproduksi oleh resonator
berbentuk corong dengan bahan spun metal
. Jenis conus resonator yang digunakan termasuk single inverted cone.
Selain steel guitar, Adrian juga menggunakan guitar
resonator berbodi kayu juga kuningan. Steel guitar milik Adrian telah mengalami
modifikasi. Penambahan pick up magnetic
membantu Adrian memproduksi suara yang diinginkan. Hal ini dilakukan untuk mempermudah
saat pentas. Prinsip dasar akustika selain dari resonator juga terdapat f hole yang memungkinkan untuk di-micking. Selain efek guitar standar,
Adrian menggunakan stomp board. Instrument
tambahan dimainkan dengan kaki diketukan. Bahan dasar dari kayu, bentuk fisik
seperti dingklik kecil (tempat duduk:
Jawa). Instrument ini berfungsi sebagai penjaga beat, sekaligus pembentuk ritme dalam range frekwensi rendah. Kata Adrian, penggunaan stomp board dulu menggunakan salah satu
lantai kayu teras belakang.