|
|
|
|
| :: Anda berada di halaman: Laku dan Cerita - Edisi: 119/XI/2010 |
|
Neka: Keris Bali Bersejarah
 |
| Foto: Pandhu-Gong |
Setelah sukses didaulat menjadi salah satu Dewan Pakar dalam perhelatan pameran keris akbar "Keris for The World" yang dihelat di Jakarta awal Juni lalu, sesepuh jagat perkerisan Bali, Pande Wayan Suteja Neka (71), kembali suntuk menggarap salah satu buku kerisnya yang sempat tertunda. "Selama hampir tiga tahun terakhir saya bersama pengkaji keris asal Solo, Basuki Teguh Yuwono mulai menggarapnya secara perlahan di tengah berbagai kendala yang ada", ungkap pendiri Neka Gallery dan Neka Art Museum (NAM) itu. Ia berharap bisa di rilis sebelum akhir tahun ini. Buku yang rencananya setebal 365 halaman itu rencananya diberi judul Keris Bali Bersejarah. Berisi napak tilas jejak rekam jagat keris pusaka Bali yang sudah dirintisnya sekaligus menjadi bagian dari koleksi Keris Hall di Museum Seni Neka, sejak akhir tahun 1990-an. Ini menjadi "jalan" baginya untuk kembali ke "kawitan", sesuai dengan nama besar keluarga pande yang disandang di depan namanya. "Gagasan itu muncul setelah saya kembali bergelut dengan dunia keris", tandas pemilik gelar Jejeneng Empu Keris itu singkat. "Minimnya buku keris di pasaran membuat saya gelisah dan berencana menerbitkan beberapa buku referensi Keris Bali", papar tokoh yang banyak mendapat berbagai gelar kehormatan atas jasanya dalam memajukan dunia seni budaya Bali itu, menutup perbincangan dengan Gong. (dhoe)
|
|
|
|
|
Rona Mentari: Buku Dongeng
 |
| Foto: Dok. Rona Mentari |
Mendongeng memang telah mencandu di kehidupan gadis mungil ini. Sebuah bakat yang lekas ditangkap ayahnya. Konon, betapa fasih, Rona kecil mengulang cerita yang dibawakan guru-guru di sekolah. Berbekal bakat dan dukungan penuh dari keluarga, khususnya dari sang bapak, prestasi demi prestasi pun ditorehnya. Memenangi sederetan lomba mendongeng maupun lomba baca cerita, baca puisi, hingga lomba presenter anak. Intens mengisi pengajian anak, remaja, maupun dewasa. Putri bungsu Dewi Katmadu yang juga hobi membuat film itu yakin betul jika dongeng memiliki daya pikat yang tak dimiliki “media” lain. “Efektif untuk pendidikan anak,” ujar peraih juara ke-3 Pildacil (Lativi) di tahun 2006 tersebut. Kini, Rona yang baru saja lulus dari bangku SMU itu, merasa bukan anak kecil lagi. Ia tertantang untuk membuat lompatan-lompatan kreativitas. Di benaknya telah lama muncul gagasan menulis dongeng sendiri yang diilhami kejadian-kejadian yang begitu dekat, seperti “Semangat sholat sebab iming-iming hadiah". Di akhir 2009, ia mulai menyongsong impian buku dongeng tersebut. “Buku cerita yang sarat dengan pesan dan hikmah,” tegasnya ekspresif. Hei.. tentunya sekaligus mempertahankan dan memantapkan eksistensi. Rona telah membekali diri dengan membaca sejumlah buku cerita juga rajin browshing di internet. Dan momen liburan ini sungguh disyukurinya: kesempatan emas untuk melunaskan target karyanya. Ia optimis buku dongengnya dengan tokoh Trimbil yang telah jadi trade mark-nya, bakal di-launching tepat di bulan Ramadhan. (aya)
|
|
|
|
|
Rambat Yulianingsih: Kekuatan Cinta
 |
| Foto: Dok. Rambat Yulianingsih |
Awal Juli lalu perempuan berparas ayu ini menggelar karya tarinya di Teater Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta untuk meraih gelar Magister Seni dari sekolah Pascasarjana ISI Surakarta. Ia mengetengahkan reportoar berjudul Adaninggar: Kerikil Kecil Padang Pasir—sebuah kisah cinta seorang perempuan yang rela meninggalkan negerinya hanya untuk mengejar cinta. Kekuatan cinta seorang perempuan bernama Adaninggar terhadap Jayengrana. “Cinta yang sungguh-sungguh aneh, karena Adaninggar belum pernah bertemu dengan Wong Agung Jayengrana. Pun, terpisahkan oleh dua kerajaan,” kata Rambat ketika ditemui Gong. Penari berpenampilan lembut ini telah melanglang ke berbagai negara mengikuti banyak misi kesenian bersama para penari ternama Indonesia, di antaranya adalah Jarod B. Darsono, Mugiono, Elly D Luthan, Retno Maruti, Miroto, Joko SS, hingga Sardono W. Kusumo. Tak hanya piawai menari, perempuan berambut panjang kelahiran 1978 ini juga memiliki bakat sebagai penyanyi tembang-tembang Jawa. Ia turut mendukung kiprah beberapa komponis seperti B. Subono dan Rahayu Supanggah. “Alhamdulillah, akhirnya karya ini rampung dan semua (pertunjukan) berjalan lancar. Namun yang lebih penting bahwa saya dapat mengetengahkan tema tentang sebuah kehebatan cinta terhadap penonton semua,” tambahnya. Aih, cinta telah menambatkan gelar magister di pundakmu. (Pin)
|
|
|
|
|
Tony Maryana: Workshop Musik Elektronik
 |
| Foto: Erie-Gong |
Tony Maryana, komponis muda kelahiran Bandung ini, tengah suntuk memberi workshop tentang sound synthesis untuk program musik komputer kepada sekelompok siswa didikannya. “Aku membedah hal yang paling mendasar dari musik elektronik dengan perangkat lunak open source,” ujarnya. Apa goalnya? “Siswa bisa membuat musik elektronik, juga mengerti hakikat bunyi secara fisika, juga ilmu dan istilah dalam akustik,” jelasnya. Program yang diselenggarakan di Art Music Today Yogyakarta ini dilaksanakan selama beberapa minggu dalam rangka menyambut workshop yang sama dari seniman residensi asal Australia yang berkunjung ke Indonesia pada 3 Juli sampai 5 Agustus. “Jadi mereka aku bekali untuk persiapan workshop tersebut,” terangnya soal kesiapan anak didiknya tersebut. Tony, yang sudah berkecimpung di ranah musik elektronik sejak 2006 ini mengaku banyak mendapatkan manfaat dari aktifitasnya. Ia pun banyak terlibat untuk program-program workshop, festival, dan sering mendapat order bikin musik tari, teater, atau pameran lukisan. Siap menyusul sukses para senior, ya. (Erie)
|
|
|
|
|
|



| |
|
|
|
|
| |
 Gerak Lucu Wayang Golek |
 Gerak Mulut Wayang Sasak |
| |
 Sekar Diu - Wayang Sasak |
 Topeng Cupak |
|
|
|