Minggu-minggu ini mungkin minggu paling berkah untuk tukang urut. Banyak orang yang kejang otot leher akibat menonton video sex Ariel dan Cut Tari. Walaupun ini bukan pertama kali di Indonesia muncul skandal video sex yang melibatkan selebritis dan perselingkuhan (ingat Maria Eva? Ya, mohon maaf dijadikan contoh. Kasusnya mewakili keduanya) namun entah mengapa kali ini menjadi begitu istimewa yang bahkan sampai New York Times dan CNN versi online turut mengulasnya. Agak sulit memutuskan mana yang lebih baik, berkaitan dengan ulasan tentang Indonesia di media luar negeri: video sex atau aksi pemboman oleh gerakan radikal, walau harus diakui dua-duanya menampar image Indonesia sebagai bangsa yang menjunjung tinggi keluhuran budaya dan toleransi beragama.
Seperti layaknya berita sensasional yang lain di Indonesia, kasus ini makin berkembang dengan berita-berita sampingan seperti Ariel kena santet, lontaran keraguan sang pengacara pada kualifikasi kepakaran seorang ahli telematika, tidak ketinggalan kekonyolan oknum massa salah satu daerah yang menuntut pemerintah daerahnya mencabut KTP Ariel. Lebih besarkah pengaruh seorang Ariel dibanding Yahya Zaini terhadap moral generasi muda Indonesia? Mungkinkah ini juga bisa dibaca sebagai pertanda bahwa wakil-wakil rakyak sebetulnya tidak mewakili rakyat dibandingkan para selebriti? Kalau benar adanya maka sah lah jika Julia Perez, Ayu Azhari, dan barisan artis lainnya menjadi pemimpin daerah. Namun supaya tidak ikut-ikutan trend pembelokan masalah, lebih baik melihat apa sih yang menghebohkan dari video-video ini.
Pertama ada baiknya membicarakan apa itu pornografi. Berasal dari bahasa Yunani porne dan graphe, pornographe bearti pembahasan atau representasi prostitusi yang dibahas secara publik. Walaupun masih bisa diperdebatkan, karya yang dikatagorikan sebagai pornografi pertama muncul dari seniman Itali Pietro Aretino yang pada tahun 1530 menulis soneta sexual yang disertai ilustrasi (McNair 1996). Lebih jauh McNair menguraikan karakter pornografi adalah kevulgaran dan erotika dengan mengutip pendapat Lynn Hunt yang mengatakan dasar pornografi adalah “representasi eksplisit dari aktivitas sexual yang menantang konvensi moralitas pada saat itu”. Muncul kontradiksi ketika mempertemukan erotika dengan kevulgaran, karena erotika berkaitan dengan rangsangan seksual yang kadang sama sekali tidak berhubungan dengan tampilan-tampilan vulgar. Erotika lebih berhubungan dengan fantasi, dan fantasi inilah yang rupanya menjadi unsur utama kehebohan kasus video ini.
Sebagai video sex bisa dikatakan kedua video ini tidak telalu menarik, baik secara adegan maupun teknik videografi. Tanpa bermaksud pura-pura menjadi pakar telematika, video ini jelas dibuat oleh amatir dengan kemungkinan dimaksudkan sebagai dokumentasi pribadi. Dalam video “Lumay” beberapa gambar diambil secara hand held, otomatis dengan aktivitas seperti itu gambar menjadi sangat tidak stabil, ditambah dengan kualitas pencahayaan dan spesifikasi kamera yang buruk. Sementara dengan angle 90˚ video “CT” menghasilkan efek kejang otot leher bagi penontonnya. Namun justru kesan dokumentasi ini yang rupanya menciptakan efek autoeroticism.
Seperti banyak didiskusikan dalam teori film, menonton film adalah pemenuhan kebutuhan untuk melihat (liat Laura Mulvey yang mendasarkan teorinya pada teori Freud). Kepuasan melihat tidak hanya didapat ketika mendapatkan informasi, tetapi juga ketika mampu melihat yang “tidak bisa dilihat” sekaligus mengidentifikasikan diri dengan apa yang dilihat dalam jarak yang aman. Autoeroticism mengajak penonton membuat dunia fantasinya sendiri yang tercipta melalui gabungan imajinasi dan campuran rasa bersalah yang menghasilkan kenikmatan (Gagnon 1988). Gaya home video yang digunakan, secara sadar atau tidak, meliarkan fantasi justru karena ilusi otentisitas video tersebut. Jadi bisa dikatakan kunci ke-gayeng-an kasus ini sepertinya justru terletak pada bocornya sebuah rahasia dan visualisasi imaginasi yang sudah sekian lama menggayuti sebagian otak laki-laki Indonesia tentang Luna Maya atau selebriti lainnya. Fantasi menjadi Ariel dengan image ladies man nya menemukan pembuktian pada dua video ini, di luar pembahasan apakah betul mereka yang melakukan atau tidak.
Pertanyaannya kemudian, lalu bagaimana? Damage control yang sedang diusahakan oleh sang pengacara dengan memposisikan para selebriti ini sebagai korban tampaknya juga tidak efektif mengingat pengakuan melakukan atau tidak pada dasarnya tidak terlalu berarti bagi penonton. Mereka sudah cukup terpuaskan oleh imaginasi melihat hal yang tidak boleh dilihat. Tervisualisasikannya fantasi dan ilusi otentisitas dari gaya dokumentasi sudah menciptakan apa yang disebut screen memory. Screen memory adalah percampuran antara ingatan dan fantasi yang kadang mengaburkan ingatan yang sesungguhnya. Ingatan akan isu kisah cinta Ariel-Luna Maya ketika Ariel masih secara legal menikah atau isu perselingkuhan Cut Tari digabungkan dengan fantasi dari video tersebut menciptakan keyakinan yang sepertinya tidak bisa diselesaikan hanya dengan retorika mencari pelaku sebenarnya atau siapa yang menyebarkan. Langkah yang sangat tidak bijak juga menghembuskan berita Ariel kena santet atau hal-hal mistik lainnya yang justru menambah efek misteri dari video yang sebenarnya tidak lebih dari video-video sex lain yang pernah muncul di Indonesia.
Sebuah catatan kecil, ribut-ribut kasus ini kok mengingatkan pada efek film Pengkhianatan G30S/PKI. Ini bukan bicara soal stereotype moralitas yang dihembuskan oleh ORBA atau melakukan tuduhan siapa berideologi apa, tetapi bicara bagaimana proses dikalahkannya ingatan oleh screen memory. Mungkin bagi yang mengalami kebiasaan menonton film Pengkhianatan G30S/PKI pada malam 1 Oktober akan secara visual mengingat (dan mungkin percaya) peristiwa tahun 1965 itu seperti apa adanya yang dituturkan dalam film tersebut. Jika reaksi massa yang berdemo menuntut pencabutan KTP Ariel ini terjadi karena proses yang sama, alangkah menyedihkan melihat kenyataan bahwa masih banyak orang yang, walau hidup bersama televisi selama hampir 24 jam, namun belum memahami karakternya.
Kasus ini sepertinya akan menjadi lebih bermanfaat jika digunakan untuk melihat logika berpikir dan karakter massa yang bereaksi. Ini yang berusaha digambarkan oleh judul artikel yang sok rumus; sesuatu yang tidak riil (para selebriti itu kan hidupnya tidak sesimple yang terepresentasikan dalam video itu) ditambah uncut dokumentasi video, ditambah imaginasi yang tak berbentuk atau maya menghasilkan sesuatu yang reii: reaksi pemerintah dan massa yang riil, rasa ketersinggungan yang riil, dan tidak lupa tentunya kenikmatan (melihat, membicarakan, atau merasa lebih suci) yang sangat riil.