Obituari: Seniman Sapto Rahardjo Berpulang 05-03-2009 08:31:24
YOGYAKARTA, KOMPAS — Setelah dirawat dua pekan di Rumah Sakit Panti Rapih, Yogyakarta, akibat sakit lever, musisi kontemporer Sapto Rahardjo (54) meninggal dunia pada hari Jumat (27/2) pukul 01.15. Sapto merupakan penggagas festival internasional tahunan, Yogyakarta Gamelan Festival atau YGF, dan Gamelan Gaul yang telah digelar 13 kali.
Anak kedua Sapto, Desyana Wulani Putri (28), melaksanakan ijab pernikahan dengan Bagus Aryanto Saputro di hadapan jenazah sebelum dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Blunyah Gede. Sebelum meninggal dunia, Sapto menjalani operasi usus buntu dan kemudian menjalani perawatan intensif karena terserang penyakit lever.
Menurut anak pertamanya, Ishari Sahida (29), Sapto mencurahkan seluruh waktunya untuk pekerjaan seni.
Bahkan saat dirawat di rumah sakit, Sapto tak henti memikirkan konsep untuk penyelenggaraan YGF ke-14 yang akan digelar Juli mendatang. ”Pesan terakhirnya ingin supaya perjuangannya untuk gamelan kontemporer diteruskan,” ujar istri Sapto, Isti Indraeni (49).
Sapto yang lahir di Jakarta pada 16 Februari 1955 meninggalkan seorang istri dan tiga anak. Kepergian Sapto juga meninggalkan agenda besar besar bagaimana untuk merampungkan grand design YGF yang rencananya akan digelar hingga tahun 2014. ”YGF ini pekerjaan besar. Saya berharap bisa meneruskan cita-citanya,” ujar Ishari.
Pengajar Jurusan Seni Karawitan Institut Seni Indonesia Surakarta, I Wayan Sadra, menjuluki Sapto sebagai seniman pejuang. Di sela rasa duka akibat kepergian sahabat, Sadra menyatakan keprihatinanannya karena belum ada tokoh seperti Sapto yang berani berjuang mengangkat gamelan dengan idealisme penuh. ”Pencapaiannya hanya bisa dilakukan oleh seorang pejuang,” ujarnya.
Dengan totalitas hidup pada seni kontemporer gamelan yang merupakan ranah nonprofit, Sapto telah berhasil menciptakan komunitas masyarakat internasional gamelan lewat YGF. Bahkan, sampai akhir hayatnya seniman yang selalu berambut panjang ini seperti tak mau mengecap ”kenikmatan” hidup materi. ”Kami berpindah kontrakan sampai tujuh kali dan rumah kami di mana tinggal sekarang pun kontrakan merangkap sekretariat Yayasan Gayam,” ujar Ishari.
Sapto mampu menjembatani jurang antara seni tradisi Jawa dan orang-orang muda melalui teknologi. Musisi yang berbekal pendidikan nonformal tentang seni gamelan itu terus berinovasi dengan mengawinkan gamelan dan musik elektronika.
Budayawan Emha Ainun Nadjib mengaku salut terhadap Sapto yang tidak mau berkompromi dengan urusan ”apakah jualannya laku atau tidak”. Sapto dinilai sangat meyakini jalan hidupnya sebagai seniman, seniman gamelan ya seniman kontemporer. ”Beda dengan orang-orang sekarang,” ujar Cak Nun.
Wali Kota Yogyakarta Herry Zudianto menyatakan penghormatan dan kekagumannya kepada Sapto Rahardjo yang mengolah gamelan sebagai musik kontemporer melalui komputer dan musik elektronik. ”Namanya layak masuk ke tapak prestasi di Taman Pintar. Penghargaan terbaik bukan sekadar monumen, tetapi bagaimana gagasan-gagasannya ada yang melanjutkan,” ujarnya.
Menurut catatan Kompas, tiga tahun terakhir Sapto menjadi tenaga pengajar untuk mata kuliah musik gamelan di sejumlah universitas di California, Amerika Serikat. (PRA/WKM)
(Sumber KOMPAS, 28 Februari 2009) |