Beranda Tentang Kami Hubungi Kami Agen/Distributor Berlangganan Galeri Foto Merchandise Polling Blog Edisi:    
Selamat Datang di situs GONG, media seni-budaya Nusantara. - Di sini kami menyediakan pelbagai informasi, yang mudah diakses. - Saran dan kritik Anda kami tunggu, silakan klik HUBUNGI KAMI.
  Fasilitas Pencarian: advanced search Selasa, 7 September 2010 | 06:34 WIB
 RUBRIK UTAMA
   Salam Budaya
   Dari Pembaca
   Sorot
   Sosok
   Wawasan
   Media
   Ensiklopedi
   Resensi
   Bingkai
   Panggung
   Sastra
   Anjungan
   Laku dan Cerita
   Tatap

 SOSOK
Pendidikan Untuk Penonton

 BINGKAI
Bantengan

 Polling
Jika Anda pembaca Gong, tulisan tentang apa yang paling diminati?
Wawasan kebudayaan melalui kajian seni
Berita keberagaman seni lokal
Kesenian dalam kehidupan masyarakat
Review dengan pendekatann estetika
Seni lokal yang diolah menjadi komersial
 

 Lihat hasil...

 
:: Anda berada di halaman: Resensi - Edisi: 119/XI/2010

Foto: 01  
The Dawn Melodies Sangahanem
Oleh: Erie Setiawan

Mendengar Sangahanem, kita diseret memasuki konstelasi World Music dalam kadarnya yang sejuk, tidak berat, minimal, dan menghibur.

Marilah pelan-pelan kita mendengarkan karya-karya di album ini. Sebuah album yang bersumber dari semangat tradisi dalam berbagai berbagai estetikanya. Di muka kita terbentang eksotisme sape, alat musik dari Dayak: hasapi dari Batak: gambus Sumatera: zigana Timur Tengah, pelog Jawa, suling Makassar, dan sederet sentuhan ricikan tradisional yang lain. Tidak mustahil, membicarakan album Sangahanem, kita diseret memasuki konstelasi World Music dalam kadarnya yang ringan.

Grup musik yang didirikan pada 14 Februari 2005 di Yogyakarta ini memang terdiri anak muda urban yang sedang bergairah menggali sumber masuk baru sebagai respon atas fenomena yang terjadi di dunia musik (masa kini) yag dianggap stagnan. Mereka kepingin bereksplorasi dalam wilayah yang lebih luas.

Mereka sekumpulan pemusik lulusan Etnomusikologi Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta yang katanya, mencoba konsisten dalam satu konsep: “Decisive that possibly” dalam tagline “Spirit of Ethnic Music”. Dikumpulkanlah irama dan instrumen lintas genre, tradisi, dan modern dengan balutan diatonis dan pentatonis ke dalam paket musik yang khas.

Apa instrumentasi yang mereka pakai? Kita bisa melihat yang unik di sini, antara lain: hasapi, suling, cak, da kencrung yang dimainkan oleh Sasmito: djembe, marakas, hi-hat yang dipukul oleh Felix: violin, sape, gambus, gitar, dicabik-cabik oleh Arif Sigit: dan bas listrik yang didulit oleh Sinung Garjito.

Masing-masing instrumen tersebut memiliki timbre yang khas, meskipun cukup kentara dalam album ini: warna bunyi tersebut kurang mendapat pengolahan yang maksimal. Umumnya, mereka hanya bermain dalam pola-pola tutti melodi dan irama-irama yang kadang-kadang satu dan yang lainnya terasa monoton.

Tapi apa pun itu, usaha mereka adalah sebuah penghargaan atas kemauan mensikapi sumber-sumber suara Nusantara yang masih hidup. Sangahanem tercatat juga sebagai grup yang saban waktu mengisi hiburan apresiatif di Sasanti Gallery and Resto, Yogyakarta.

Lima karya tersedia di album bertajuk “The Dawn Melodies” ini: Story of Sapek and Hasapi, Dance with Gambus, Walking on the Green Seas, Contemplation Melody, Spirit of Zigana. Album ini merupakan diskografi mereka yang perdana.

Walking on the Green Seas, atau berjalan di laut hijau adalah satu karya yang menarik. Tiruan dari pola garap dalam gamelan Jawa dimainkan menggunakan gitar untuk melodi utama, dengan irama yang diambil dari cak (semacam instrumen ukulele biasanya digunakan dalam keroncong) untuk mengadopsi pola nada dan irama sitar Jawa. Itu semua dibungkus dengan bass listrik dan djembe sebagai aksentuasi dalam irama untuk penebalan nuansa Jawa. Ada suling dan violin yang menyempil dalam fungsinya yang melodius. Lagu ini seperti meminta pendengar untuk berjalan-jalan di sebuah bidang yang hijau, nan subur.

Spirit of Zigana juga menjadi cerita lain. Melodi utama pada nada zigana dalam skala matriks sebagai introduksi oleh violin dikombinasikan dengan ukulele untuk irama dalam dialog dengan berbagai instrumen. Pengulangan dari melodi menyiratkan suasana hati yang gembira dan energik. Memberikan kelegaan dalam dahaga yang kering.

Musik tak hanya sebatas ruang dengar, tetapi juga penghayatan akan nilai-nilai tradisi dan budaya, dalam lanskapnya yang luas. Apa pun bisa dilakukan, asal ada kemauan dan niat. Barangkali, sebelum berpikir hal-hal kontekstual tersebut, para pemusik di Sangahanem sudah lebih dulu menjiwai musik mereka karena pengalaman bermain yang bertahun-tahun. “Kami pun bukan hanya memainkan musik,” ungkap Sasmito.

Di balik itu jelas ada upaya inovatif, untuk sedtidaknya memperkenalkan, konservasi, dan mendokumentasikan karya musik etnis dan elemennya yang bernuansa eksploratif. “Kami membawa identitas bangsa untuk dunia internasional”, katanya.



 







SPECIAL EVENTS


AGENDA BUDAYA

  • Festival Benteng Ungaran 2010
  • Jagongan Media Rakyat 2010
  • Teater Malam Jahanam
  • Atraksi Seni Peringatan Satu Tahun Madya - (REVIEW)

  • INFO BUKU
     

    Kumpulan Esai Riau Pos

    Riak Lara Pantai Demak

    Antologi Obrolan

    Antara Panjak Hore dan Rock Progresif

    NEWS

  • Dedikasi dalam Imaji I Wayan Rai
  • Berlalunya Sebuah Era?
  • Seniman Sapto Raharjo Wafat
  • Obituari: Seniman Sapto Rahardjo Berpulang
  • Seniman Gamelan Sapto Rahardjo Meninggal Dunia

  •  
     GALERI FOTO
     

    Gerak Lucu Wayang Golek

    Gerak Mulut Wayang Sasak
     

    Sekar Diu - Wayang Sasak

    Topeng Cupak


      Copyright © 2008 Majalah Gong
      Jl. Nitikan Baru, Gang Aries No. 46, Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta 55161
      Telp/Fax: +62-0274-370830 | 081568445708
      E-mail: redaksi@gong.tikar.or.id

    Developed by: Satya Adirimata +62 818 650771, +62 21 991 45561. Email: adirimata@yahoo.com