Marilah pelan-pelan kita mendengarkan karya-karya di album ini. Sebuah album yang bersumber dari semangat tradisi dalam berbagai berbagai estetikanya. Di muka kita terbentang eksotisme sape, alat musik dari Dayak: hasapi dari Batak: gambus Sumatera: zigana Timur Tengah, pelog Jawa, suling Makassar, dan sederet sentuhan ricikan tradisional yang lain. Tidak mustahil, membicarakan album Sangahanem, kita diseret memasuki konstelasi World Music dalam kadarnya yang ringan.
Grup musik yang didirikan pada 14 Februari 2005 di Yogyakarta ini memang terdiri anak muda urban yang sedang bergairah menggali sumber masuk baru sebagai respon atas fenomena yang terjadi di dunia musik (masa kini) yag dianggap stagnan. Mereka kepingin bereksplorasi dalam wilayah yang lebih luas.
Mereka sekumpulan pemusik lulusan Etnomusikologi Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta yang katanya, mencoba konsisten dalam satu konsep: “Decisive that possibly” dalam tagline “Spirit of Ethnic Music”. Dikumpulkanlah irama dan instrumen lintas genre, tradisi, dan modern dengan balutan diatonis dan pentatonis ke dalam paket musik yang khas.
Apa instrumentasi yang mereka pakai? Kita bisa melihat yang unik di sini, antara lain: hasapi, suling, cak, da kencrung yang dimainkan oleh Sasmito: djembe, marakas, hi-hat yang dipukul oleh Felix: violin, sape, gambus, gitar, dicabik-cabik oleh Arif Sigit: dan bas listrik yang didulit oleh Sinung Garjito.
Masing-masing instrumen tersebut memiliki timbre yang khas, meskipun cukup kentara dalam album ini: warna bunyi tersebut kurang mendapat pengolahan yang maksimal. Umumnya, mereka hanya bermain dalam pola-pola tutti melodi dan irama-irama yang kadang-kadang satu dan yang lainnya terasa monoton.
Tapi apa pun itu, usaha mereka adalah sebuah penghargaan atas kemauan mensikapi sumber-sumber suara Nusantara yang masih hidup. Sangahanem tercatat juga sebagai grup yang saban waktu mengisi hiburan apresiatif di Sasanti Gallery and Resto, Yogyakarta.
Lima karya tersedia di album bertajuk “The Dawn Melodies” ini: Story of Sapek and Hasapi, Dance with Gambus, Walking on the Green Seas, Contemplation Melody, Spirit of Zigana. Album ini merupakan diskografi mereka yang perdana.
Walking on the Green Seas, atau berjalan di laut hijau adalah satu karya yang menarik. Tiruan dari pola garap dalam gamelan Jawa dimainkan menggunakan gitar untuk melodi utama, dengan irama yang diambil dari cak (semacam instrumen ukulele biasanya digunakan dalam keroncong) untuk mengadopsi pola nada dan irama sitar Jawa. Itu semua dibungkus dengan bass listrik dan djembe sebagai aksentuasi dalam irama untuk penebalan nuansa Jawa. Ada suling dan violin yang menyempil dalam fungsinya yang melodius. Lagu ini seperti meminta pendengar untuk berjalan-jalan di sebuah bidang yang hijau, nan subur.
Spirit of Zigana juga menjadi cerita lain. Melodi utama pada nada zigana dalam skala matriks sebagai introduksi oleh violin dikombinasikan dengan ukulele untuk irama dalam dialog dengan berbagai instrumen. Pengulangan dari melodi menyiratkan suasana hati yang gembira dan energik. Memberikan kelegaan dalam dahaga yang kering.
Musik tak hanya sebatas ruang dengar, tetapi juga penghayatan akan nilai-nilai tradisi dan budaya, dalam lanskapnya yang luas. Apa pun bisa dilakukan, asal ada kemauan dan niat. Barangkali, sebelum berpikir hal-hal kontekstual tersebut, para pemusik di Sangahanem sudah lebih dulu menjiwai musik mereka karena pengalaman bermain yang bertahun-tahun. “Kami pun bukan hanya memainkan musik,” ungkap Sasmito.
Di balik itu jelas ada upaya inovatif, untuk sedtidaknya memperkenalkan, konservasi, dan mendokumentasikan karya musik etnis dan elemennya yang bernuansa eksploratif. “Kami membawa identitas bangsa untuk dunia internasional”, katanya.