Beranda Tentang Kami Hubungi Kami Agen/Distributor Berlangganan Galeri Foto Merchandise Polling Blog Edisi:    
Selamat Datang di situs GONG, media seni-budaya Nusantara. - Di sini kami menyediakan pelbagai informasi, yang mudah diakses. - Saran dan kritik Anda kami tunggu, silakan klik HUBUNGI KAMI.
  Fasilitas Pencarian: advanced search Sabtu, 11 September 2010 | 06:25 WIB
 RUBRIK UTAMA
   Salam Budaya
   Dari Pembaca
   Sorot
   Sosok
   Wawasan
   Media
   Ensiklopedi
   Resensi
   Bingkai
   Panggung
   Sastra
   Anjungan
   Laku dan Cerita
   Tatap

 SOSOK
Pendidikan Untuk Penonton

 BINGKAI
Bantengan

 Polling
Jika Anda pembaca Gong, tulisan tentang apa yang paling diminati?
Wawasan kebudayaan melalui kajian seni
Berita keberagaman seni lokal
Kesenian dalam kehidupan masyarakat
Review dengan pendekatann estetika
Seni lokal yang diolah menjadi komersial
 

 Lihat hasil...

 
:: Anda berada di halaman: Salam Budaya - Edisi: 119/XI/2010


Ah, Penonton

Ia lelaki bernama Hendri Mulyadi. Ia tiba-tiba melompat dari atas dinding penonton di Stadion Utama Gelora Bung Karno, merangsek ke tengah lapangan, saat laga Indonesia versus Oman memasuki menit-menit akhir. Mengenakan kostum timnas Indonesia, pemuda berusia 20-an tahun itu menggiring bola ke gawang Oman. Ia hendak mencetak gol, tapi gagal.

Aksi itu kontan meraup kesima para penonton: takjub, tapi juga gerah. Suporter edan! Penonton yang lain, juga yang memelototi pertandingan di layar televisi, hanya bisa menerka: Hendri sedang geram lantaran terlalu kerap dikecewakan tim sepakbola nasional.

Juga pada sebuah pesta rakyat yang dimeriahkan oleh tarian topeng di Indramayu, Jawa Barat. Kata etnomusikolog asal Subang, Aton Rustandi Mulyana, “Bahkan bukan hanya seorang: para penononton berebut masuk panggung, merapat, memeluk, lalu menarik paksa sang dalang untuk dibawa ke luar panggung.” Alih-alih diajak menari, para penonton itu hanya mengajak sang dalang—yang masih menari—kumpul bersamanya, ngobrol sambil pegang-pegang tangan, atau ada yang berani mencium. Mereka hanya ingin dekat dengan si dalang topeng, tak peduli apakah dalang bisa menuntasakan pertunjukannya atau tidak.

Kedua aksi itu menyampaikan pesan: begitu dalam dan intens relasi penonton dengan yang ditonton hingga memendarkan aneka kisah, dari yang aneh, lucu, tapi juga tragik seperti ditunjukkan oleh ulah penonton campursari—pada suatu ketika, di sebuah kampung di pelosok Jawa—yang menghunus pedang ke leher salah seorang pemusiknya agar tak menyudahi aksi panggungnya.

Pada keseluruh ulah penonton tersebut, mereka tampak tak peduli, apakah penonton yang lain suka atau tidak dengan caranya. Selain, barangkali, menganggap penonton yang lain pun sama seperti mereka, sebagaimana diperlihatkan oleh para penonton dangdut: asoi goyang pinggulnya adalah bahasa solidaritas. Yang mana, setiap perilaku individu merasa sah dan akan selalu diterima secara kolektif oleh ratusan, bahkan ribuan, massa yan berjubel menikmati alunan dangdut.

Tapi tidak pada kebanyakan penonton di program-program panggung hiburan di stasiun televisi. Barangkali, beranjak dari teori bahwa penonton adalah jiwa yang menghidupkan sebuah acara, maka dihadirkanlah “penonton bayaran” yang diharapkan bakal menghebohkan suasana. Untuk itu, produser melibatkan agency, sebutlah “koordinator penonton”, yang akan merekrut puluhan hingga ratusan orang.

Syaratnya, para calon penonton itu harus tampil look, alias berpenampilan menarik dan dengan kostum yang bagus—yang mereka bawa sendiri, juga peralatan make upnya. Bisa dandan, bisa bekerjasama dengan kru dan tim kreatif acara, dan yang penting bisa membangun suasana: saat sedih bisa nangis, saat ramai bisa kegirangan, dan sebagainya, dan seterusnya. Yang pasti: mereka harus ikuti aturan dan skenario acara. Mereka bekerja. Mereka “bukan penonton biasa”!

Demikianlah faktanya. Mungkin belum banyak yang tahu, tak semua penonton program televisi yang hadir di studio ternyata orang-orang bayaran. Mereka dipekerjakan untuk memeriahkan acara. Ehm… Sudah nongol di teve, dapat bayaran pula.

Menonton, dengan beragam motif dan tujuannya, pada akhirnya bukan sekadar aktivitas melihat-menikmati apa yang ditonton. Di sana berlangsung transfer nilai, share opinion, kritik, dan tindakan-tindakan apresiatif lainnya. Itu semua melibatkan interelasi baik antar penonton, penonton dengan performer dan/atau penyelenggara, penonton dengan performance, juga dengan aspek-aspek lain di seputar pertunjukan. Dengan itu, proses pemaknaan pertunjukan berlangsung.

Dan dengan itu pula, Saudara Hendri Mulyadi berhak mengembangkan konstruksi pemaknaan tentang keoknya timnas Indonesia versus Oman, tanpa peduli apakah penonton yang lain suka atau tidak dengan caranya.



 







SPECIAL EVENTS


AGENDA BUDAYA

  • Festival Benteng Ungaran 2010
  • Jagongan Media Rakyat 2010
  • Teater Malam Jahanam
  • Atraksi Seni Peringatan Satu Tahun Madya - (REVIEW)

  • INFO BUKU
     

    Kumpulan Esai Riau Pos

    Riak Lara Pantai Demak

    Antologi Obrolan

    Antara Panjak Hore dan Rock Progresif

    NEWS

  • Dedikasi dalam Imaji I Wayan Rai
  • Berlalunya Sebuah Era?
  • Seniman Sapto Raharjo Wafat
  • Obituari: Seniman Sapto Rahardjo Berpulang
  • Seniman Gamelan Sapto Rahardjo Meninggal Dunia

  •  
     GALERI FOTO
     

    Gerak Lucu Wayang Golek

    Gerak Mulut Wayang Sasak
     

    Sekar Diu - Wayang Sasak

    Topeng Cupak


      Copyright © 2008 Majalah Gong
      Jl. Nitikan Baru, Gang Aries No. 46, Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta 55161
      Telp/Fax: +62-0274-370830 | 081568445708
      E-mail: redaksi@gong.tikar.or.id

    Developed by: Satya Adirimata +62 818 650771, +62 21 991 45561. Email: adirimata@yahoo.com