|
|
|
|
| :: Anda berada di halaman: Sastra - Edisi: 118/XI/2010 |
|
Sajak-sajak Bernard Batubara
Bernard Batubara, lahir di Pontianak, Kalimantan Barat, 9 Juli 1989. Mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Sajak-sajaknya termaktub dalam buku antologi puisi bersama Pedas Lada Pasir Kuarsa. Menyimpan tulisannya di blog pribadi bisikanbusuk.blogspot.com
Dahak
napas
ini yang mendesak adalah kata terbawa dari rancu musim di kota kartun negeri layar
televisi dan kental lendir yang sering berubah jadi gir-gir bermesin di
tenggorokan tak pernah mau berdamai meski disuap obat pengencer produksi pabrik
luar negeri sedang cuaca panas membangun rumah di pelupuk mata menjauhkan sejuk
hujan ke pinggir-pinggir kota dan teras musala hingga setiap kedip adalah doa
agar lebar kain-kain spanduk iklan makanan di simpang jalan mengirim teduh ke
pangkal leher tempat lapar dan haus tengah bersetubuh sambil melahirkan batuk
demi batuk dan gatal yang sengit dari musim dahaga dan sajak yang sakit
Siapa
engkau
tersamar
di
antara wangi asap
ladang
yang dibakar
di
sela tunggul-tunggul
padi
hangus
dan
selisih depa
petak
sawah
yang
ditanami
pasir
dan bata
engkau
kerinduan
gigil sebuah sungai
akan
muara
yang
pernah lama
menyambut
dan
memeluknya hangat
sungai
berwarna merah
yang mengalir
dari
mata anak-anak
tertidur
di bawah
tenda-tenda
darurat
dan
puing-puing
rumah
sewa
engkau
yang longsor
dari
perut
perempuan,
bunda
bumi
yang tengah
melahirkan
bebatuan
engkaukah
pula
getaran
itu?
engkau
sayup suara
di
antara teriakan
ratusan
manusia,
tapi
kenapa
aku
mendengarnya
seperti
jerit bahagia?
engkau
injakan kaki-kaki
yang
berlari buta,
kaki-kaki
yang
setengah mati
mencoba
meloloskan
diri
dari
sergapan malaikat
maut
dan
tak menyadari
tengah
menuju ke sana pula
lagi
engkau
benak yang curiga
tak
ada hikmah
bisa
diambil
dari
musibah ini
engkau
pemain
dalam
lakon paling lucu
yang
pernah tercipta
dan
tak pernah berhasil
membuat
dirimu sendiri
tertawa
sementara
engkau pula
berdiri
di
antara barisan
penonton
yang
tergelak
tak
mengerti
apa
yang selama ini
disaksikan
engkau
penguasa negeri pembalut ini!
tahan
dipakai
hingga
empat-lima kali bocoran
engkau
itu
apakah
kau
apakah
tuhan
apakah
aku?
Memo: Pertanyaan dari Selembar yang Tertahan di Pohon Ketapang kepada Selembar
Lain yang Telah Jatuh dan Tersapu Orang
sempatkah
aku menjadi kering
dan
jatuh di halaman itu
sebelum
kau terbakar api
dan
tumbuh kembali
sebagai
daun
di tangkai yang lain? |
|
|
Artikel lainnya |
|
Percakapan Pengantin Benny Arnas, lahir di Ulak Surung-perkampungan di utara Lubuklinggau, Sumatera Selatan. Menekuni prosa sejak 2008. Karya-karyanya telah dimuat di sejumlah media, antara lain: Koran Tempo, Jawa Pos, Republika, Suara Merdeka, dan Lampung Post. Cerpen-cerpennya juga termaktub dalam sejumlah antologi: Bob Marley dan 11 Cerpen Pilihan sriti.com (GPU, segera terbit), Jalan Menikung ke Bukit Timah (TSI II, 2009), dan Di Sebuah Ruang Kuliah Seorang Guru Bercerita (Exoti-P, 2009).
|
Sajak-sajak Budhi Setyawan Budhi Setyawan, lahir di Purworejo, 9 Agustus 1969. Tulisannya dimuat di sejumlah media, antara lain: Tribun Kaltim, Republika, Jurnal Nasional, dan Seputar Indonesia. Tergabung dalam antologi bersama: Kemayaan dan Kenyataan (Fordisastra, 2007), Pedas Lada Pasir Kuarsa (TSI II, 2009), Kakilangit Kesumba (Purworejo, 2009), dan Antologi Musibah Gempa Padang (Malaysia, 2009). Aktif di sastra Reboan di Bulungan, Jakarta Selatan.
|
|
|
|
|



| |
|
|
|
|
| |
 Gerak Lucu Wayang Golek |
 Gerak Mulut Wayang Sasak |
| |
 Sekar Diu - Wayang Sasak |
 Topeng Cupak |
|
|
|