Ruang Tunggu
ah mengapa baru kurasa.
kemana saja kemarin.
nanar gamang rajin mendekap dari belakang dan menciumi tengkuk zaman.
sejauh pelarian di tepi lingkar imaji.
Kaki kaki ini dicengkeram
tentakel kenangan yang tumbuh sepanjang
jalan.
sabana dan perbukitan adalah sejenak ruang pendingin.
laut dan pantai tak mau ketinggalan menyusul ke dalam kamar mandi.
mimpi mimpi digelar di bawah rindang malam buat merebahkan letih, mungkin
bisa tertidur dan terhindar dari gigit kejaran sketsa yang pahit.
masih tersimpan berkas berkas cemooh beberapa musafir di map kecil di bawah
tangga, ketika lengang mereka sering bersuara: itu gaya bahasamu terlalu kuno,
sudah tak laku buat merayu perempuan abad akhir, tapi hanya pelipur pandir yang
kian nyengir.
di sekitarku rumah berlari kisah, desa melaju kereta, kota melesat tanpa
kata.
aku di sini.
di sini aku.
sendiri.
mendengarkan nyanyi mozaik elegi yang satu demi satu tanggal dari ruang
hati.
Semarang, 2008
Masih Ada Lolong di Lorong
engkaukah yang memupuk hujan hingga tumbuh subur di dadaku.
segala pepohonan menampak menerobos batas dekap.
bunganya elok memeluk nafasku sembari menatap ke arah malam.
aku masih kenakan mozaik mimpi sebagai penghias pakaianku yang dari kabut.
minuman senja sedikit tercampur kalut.
catatan tentangmu tertinggal di rumah siput.
kota kota memotong tubuhnya sendiri untuk membuang keriput.
juga agar bisa sembunyi dari para pemburu bayang bayang, yang menebarkan
iba berparang.
gerak tarian gedung gedung mengirimkan kepiluan, menempel di trotoar dan
jalanan.
kamar remang dengan jendela seukuran mata dan telinga, seperti kurang
cahaya.
jerit plastik plastik pembungkus pembalut yang dibuang ke selokan.
kepanikan zaman yang akut.
pesan cinta telah larut.
lalu tak ada air.
raib langit.
lengking api.
tapi terus saja mengalir mengisi buluh pertemuan yang berkarat.
berapa legam kisah sarat noktah yang digelapkan.
dan kampung kampung di kepala yang merawat dedaun temaram masih memeram
hari hari yang lambat, buat menambatkan penat.
abad abad mengeja janji sembari giat menabung cemas dan takut.
namun waktu masih mengirimkan getar saat namamu disebut.
Jakarta, 2008
Sesuatunya
sesuatu lama dikenangnya
sosok yang datang meniriskan warna pelangi di kerah baju
semburat angin mengeja relief
leher purba
begitu banyak wilayah memeram barang tambang
sejauh tebar pandang seluas tabur riang
detik detik menumpahkan kata kata tanpa rencana
malam malam mendaratkan nada nada sapa renjana
siapa paling api dalam kobaran janji
siapa paling kayu dalam deburan deru
buas musim dan taring ingin telah jelma latar belakang mimpi
burung burung kecil di sawah rajin mengaji cuaca
sesuatu baru dikenalnya
Bekasi, 2008
Pelukan Asing Buru
malam adalah pengantinku, tempat menyandarkan dada yang memendam cadas
gunung, juga sekawanan mendung yang murung.
tulisan di papan nama itu mungkin berbunyi: awas berpapas dengan sengat
bara tempurung di setapak menikung.
malam adalah pengantinku, ranjang menyiapkan kisah dan jonjot yang menerpa
leher juga muka.
ada keramaian pertunjukan, cerita yang menempel pada legenda.
kepurbaan yang bertulang dan senantiasa berulang.
malam adalah pengantinku, makhluk dari golongan gastropoda yang lirih
lambat melata.
cucur air mata dan cecar bahak tawa silih berganti lagu dan interlude,
bersahutan di sebuah hall atau studio di dalam kepala.
malam adalah pengantinku, musim yang lepas dari simpul waktu dengan
kumparan kabut kalut.
menelusup cerca sungai dan lidah dedaun, huruf huruf dari bayang rasi
bintang mengirimkan gugus gugup kecemasan.
malam adalah pengantinku, lukisan gelinjang cakrawala yang keluar bingkai
digerus taring kepesepian yang primitif.
getah kelam terus meleleh, melewati labirin
karat degup mengangkut kamar yang lolong.
Jakarta, 2008