Beranda Tentang Kami Hubungi Kami Agen/Distributor Berlangganan Galeri Foto Merchandise Polling Blog Edisi:    
Selamat Datang di situs GONG, media seni-budaya Nusantara. - Di sini kami menyediakan pelbagai informasi, yang mudah diakses. - Saran dan kritik Anda kami tunggu, silakan klik HUBUNGI KAMI.
  Fasilitas Pencarian: advanced search Selasa, 7 September 2010 | 06:50 WIB
 RUBRIK UTAMA
   Salam Budaya
   Dari Pembaca
   Sorot
   Sosok
   Wawasan
   Media
   Ensiklopedi
   Resensi
   Bingkai
   Panggung
   Sastra
   Anjungan
   Laku dan Cerita
   Tatap

 SOSOK
Pendidikan Untuk Penonton

 BINGKAI
Bantengan

 Polling
Jika Anda pembaca Gong, tulisan tentang apa yang paling diminati?
Wawasan kebudayaan melalui kajian seni
Berita keberagaman seni lokal
Kesenian dalam kehidupan masyarakat
Review dengan pendekatann estetika
Seni lokal yang diolah menjadi komersial
 

 Lihat hasil...

 
:: Anda berada di halaman: Sastra - Edisi: 119/XI/2010

Sajak-sajak Budhi Setyawan

Budhi Setyawan, lahir di Purworejo, 9 Agustus 1969. Tulisannya dimuat di sejumlah media, antara lain: Tribun Kaltim, Republika, Jurnal Nasional, dan Seputar Indonesia. Tergabung dalam antologi bersama: Kemayaan dan Kenyataan (Fordisastra, 2007), Pedas Lada Pasir Kuarsa (TSI II, 2009), Kakilangit Kesumba (Purworejo, 2009), dan Antologi Musibah Gempa Padang (Malaysia, 2009). Aktif di sastra Reboan di Bulungan, Jakarta Selatan.

Ruang Tunggu

 

ah mengapa baru kurasa.

kemana saja kemarin.

nanar gamang rajin mendekap dari belakang dan menciumi tengkuk zaman.

sejauh pelarian di tepi lingkar imaji.

Kaki kaki ini dicengkeram tentakel kenangan yang tumbuh sepanjang jalan.

sabana dan perbukitan adalah sejenak ruang pendingin.

laut dan pantai tak mau ketinggalan menyusul ke dalam kamar mandi.

mimpi mimpi digelar di bawah rindang malam buat merebahkan letih, mungkin bisa tertidur dan terhindar dari gigit kejaran sketsa yang pahit.

masih tersimpan berkas berkas cemooh beberapa musafir di map kecil di bawah tangga, ketika lengang mereka sering bersuara: itu gaya bahasamu terlalu kuno, sudah tak laku buat merayu perempuan abad akhir, tapi hanya pelipur pandir yang kian nyengir.

di sekitarku rumah berlari kisah, desa melaju kereta, kota melesat tanpa kata.

aku di sini.

di sini aku.

sendiri.

mendengarkan nyanyi mozaik elegi yang satu demi satu tanggal dari ruang hati.

 

Semarang, 2008

 

 

Masih Ada Lolong di Lorong

 

engkaukah yang memupuk hujan hingga tumbuh subur di dadaku.

segala pepohonan menampak menerobos batas dekap.

bunganya elok memeluk nafasku sembari menatap ke arah malam.

aku masih kenakan mozaik mimpi sebagai penghias pakaianku yang dari kabut.

minuman senja sedikit tercampur kalut.

catatan tentangmu tertinggal di rumah siput.

kota kota memotong tubuhnya sendiri untuk membuang keriput.

juga agar bisa sembunyi dari para pemburu bayang bayang, yang menebarkan iba berparang.

gerak tarian gedung gedung mengirimkan kepiluan, menempel di trotoar dan jalanan.

kamar remang dengan jendela seukuran mata dan telinga, seperti kurang cahaya.

jerit plastik plastik pembungkus pembalut yang dibuang ke selokan.

kepanikan zaman yang akut.

pesan cinta telah larut.

lalu tak ada air.

raib langit.

lengking api.

tapi terus saja mengalir mengisi buluh pertemuan yang berkarat.

berapa legam kisah sarat noktah yang digelapkan.

dan kampung kampung di kepala yang merawat dedaun temaram masih memeram hari hari yang lambat, buat menambatkan penat.

abad abad mengeja janji sembari giat menabung cemas dan takut.

namun waktu masih mengirimkan getar saat namamu disebut.

 

Jakarta, 2008

 

 

Sesuatunya

 

sesuatu lama dikenangnya

sosok yang datang meniriskan warna pelangi di kerah baju

semburat angin mengeja relief leher purba

begitu banyak wilayah memeram barang tambang

sejauh tebar pandang seluas tabur riang

detik detik menumpahkan kata kata tanpa rencana

malam malam mendaratkan nada nada sapa renjana

siapa paling api dalam kobaran janji

siapa paling kayu dalam deburan deru

buas musim dan taring ingin telah jelma latar belakang mimpi

burung burung kecil di sawah rajin mengaji cuaca

sesuatu baru dikenalnya

 

Bekasi, 2008

 

 

Pelukan Asing Buru

 

malam adalah pengantinku, tempat menyandarkan dada yang memendam cadas gunung, juga sekawanan mendung yang murung.

tulisan di papan nama itu mungkin berbunyi: awas berpapas dengan sengat bara tempurung di setapak menikung.

 

malam adalah pengantinku, ranjang menyiapkan kisah dan jonjot yang menerpa leher juga muka.

ada keramaian pertunjukan, cerita yang menempel pada legenda.

kepurbaan yang bertulang dan senantiasa berulang.

 

malam adalah pengantinku, makhluk dari golongan gastropoda yang lirih lambat melata.

cucur air mata dan cecar bahak tawa silih berganti lagu dan interlude, bersahutan di sebuah hall atau studio di dalam kepala.

 

malam adalah pengantinku, musim yang lepas dari simpul waktu dengan kumparan kabut kalut.

menelusup cerca sungai dan lidah dedaun, huruf huruf dari bayang rasi bintang mengirimkan gugus gugup kecemasan.

 

malam adalah pengantinku, lukisan gelinjang cakrawala yang keluar bingkai digerus taring kepesepian yang primitif.

getah kelam terus meleleh, melewati labirin karat degup mengangkut kamar yang lolong.

Jakarta, 2008
  Artikel lainnya
Orang Naik
Indrian Koto, lahir 19 Februari 1983 di Kenagarian Taratak, kampung kecil di Pesisir Selatan Sumatera Barat. Tercatat sebagai mahasiswa Sosiologi di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Aktif di Rumahlebah Yogyakarta. Belajar bersama penulis-penulis muda lainnya di Rumah Poetika. Beberapa tulisannya berupa cerpen dan puisi dipublikasikan di media masa juga termuat dalam beberapa antologi bersama.
Sajak-sajak Isbedy Stiawan ZS
Isbedy Stiawan ZS, lahir dan tinggal di Tanjungkarang (Lampung). Menulis puisi, cerpen, esai, dan karya jurnalistik. Lebih dari 17 buku cerpen dan puisi—juga antologi bersama diterbitkan oleh sejumlah penerbit di Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta.


 







SPECIAL EVENTS


AGENDA BUDAYA

  • Festival Benteng Ungaran 2010
  • Jagongan Media Rakyat 2010
  • Teater Malam Jahanam
  • Atraksi Seni Peringatan Satu Tahun Madya - (REVIEW)

  • INFO BUKU
     

    Kumpulan Esai Riau Pos

    Riak Lara Pantai Demak

    Antologi Obrolan

    Antara Panjak Hore dan Rock Progresif

    NEWS

  • Dedikasi dalam Imaji I Wayan Rai
  • Berlalunya Sebuah Era?
  • Seniman Sapto Raharjo Wafat
  • Obituari: Seniman Sapto Rahardjo Berpulang
  • Seniman Gamelan Sapto Rahardjo Meninggal Dunia

  •  
     GALERI FOTO
     

    Gerak Lucu Wayang Golek

    Gerak Mulut Wayang Sasak
     

    Sekar Diu - Wayang Sasak

    Topeng Cupak


      Copyright © 2008 Majalah Gong
      Jl. Nitikan Baru, Gang Aries No. 46, Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta 55161
      Telp/Fax: +62-0274-370830 | 081568445708
      E-mail: redaksi@gong.tikar.or.id

    Developed by: Satya Adirimata +62 818 650771, +62 21 991 45561. Email: adirimata@yahoo.com