Beranda Tentang Kami Hubungi Kami Agen/Distributor Berlangganan Galeri Foto Merchandise Polling Blog Edisi:    
Selamat Datang di situs GONG, media seni-budaya Nusantara. - Di sini kami menyediakan pelbagai informasi, yang mudah diakses. - Saran dan kritik Anda kami tunggu, silakan klik HUBUNGI KAMI.
  Fasilitas Pencarian: advanced search Sabtu, 11 September 2010 | 06:27 WIB
 RUBRIK UTAMA
   Salam Budaya
   Dari Pembaca
   Sorot
   Sosok
   Wawasan
   Media
   Ensiklopedi
   Resensi
   Bingkai
   Panggung
   Sastra
   Anjungan
   Laku dan Cerita
   Tatap

 SOSOK
Pendidikan Untuk Penonton

 BINGKAI
Bantengan

 Polling
Jika Anda pembaca Gong, tulisan tentang apa yang paling diminati?
Wawasan kebudayaan melalui kajian seni
Berita keberagaman seni lokal
Kesenian dalam kehidupan masyarakat
Review dengan pendekatann estetika
Seni lokal yang diolah menjadi komersial
 

 Lihat hasil...

 
:: Anda berada di halaman: Sosok - Edisi: 119/XI/2010

Foto: 01  
Bambang Suwarno
Bila Siap, Semua akan Ngeli
Oleh: Pincuk Suroto

Dalang itu tokoh utama dalam wayang. Ia penutur, penyanyi lagu (suluk), peracik suasana, pemimpin orkestra gamelan, pemberi jiwa pada boneka-wayang. Dan ia juga harus memahami dan nglakoni pada hal-hal gaib, seperti yang biasa hadir dalam sajian wayang ruwatan. Ia, Ki Bambang Suwarno (59), bukan sekadar seorang dalang. Ia dalang ruwat yang merupakan dalang sejati keturunan trah Ki Cerma Harjo dari Wedi, Klaten.

Puluhan orang duduk bersimpuh di tengah Pendapa Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, mendengarkan dan memperhatikan sebuah lakon Murwakala yang disajikan sang dalang. Lakon yang hanya berhenti pada hitungan jam itu biasa digunakan untuk meruwat. Kali ini yang diruwat tak satu atau dua orang, tapi massal. Untuk itu, ia membutuhkan tiga dalang. Salah satunya: Ki Bambang Suwarno (59), seorang dalang keturunan trah Ki Cerma Harjo dari Desa Wedi, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Menurut yang dianut oleh sebagian besar dalang terkenal, trah masih sangat diagungkan. Trah diperhitungkan manakala seorang dalang akan bisa disebut sebagai dalang “sejati”. Nah, dalang sejati (dalang keturunan ketujuh) inilah yang memungkinkan seseorang akan bisa melaksanakan tugas sebagai “dalang ruwat”.

Menurut Bambang Suwarno, ruwatan adalah upaya pembersihan terhadap sesuatu yang bersifat sukerto, yaitu “kotoran”, aib, melanggar larangan, yang akibatnya dipercaya bisa menghambat atau menimbulkan sesuatu yang tidak baik dalam kehidupan ke depan. Nah, untuk melakukan upacara pembersihan itu, seorang dalang ruwat harus memiliki landasan (lambaran) batin yang kuat. Sebelum melakukan upacara itu, ia biasanya melakukan puasa beberapa hari sebelumnya. “Ajaran yang saya terima ini merupakan kearifan lokal yang telah lama ada di Jawa, yaitu nek arep ngresiki kudu nyiapke batin sing resik (apabila mau membersihkan sesuatu harus menyiapkan batin yang bersih). Demikian pula bagi dalang ruwat, karena tugas (ritual) itu sangat berat maka ia harus mempersiapkan diri lebih dulu dengan laku,” tegas pria yang tengah studi S-3 di Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta tersebut.

Selain dalang sejati, menurut pendapat dalang ruwat asal Gumpang, Kartasura, Sukoharjo, Ki Joko Raharjo, dalang ruwat itu harus melalui proses mucuki (belajar mengawali adegan) terlebih dulu. Artinya, ia telah melakukan pergelaran wayang kulit dengan mengambil adegan awal dari pergelaran penuh (semalam suntuk) dari dalang seniornya (biasanya orang tuanya). Proses ini biasanya dilakukan pada masa kanak-kanak, dan ini menjadi bagian integral dari proses menjadi dalang sejati. “Walaupun sudah tua kalau belum pernah mucuki, ya, belum sah untuk menjadi dalang ruwat,” kata Joko Raharjo seperti ditirukan Bambang.

 

Penari, Pengrawit, Dalang

Bambang kecil harus memilih ketika sang ayah menanyakan cita-cita kelak mau jadi apa. Ada tiga pilihan yang disodorkan ayahnya dan semua masih dekat dengan kegiatan keseharian sebagai dalang, yaitu sebagai penari, penabuh, atau dalang. Pada waktu itu ia tidak segera menjawab. Baru keesokkan harinya, ia menuturkan alasan pilihannya. Sebenarnya ia tertarik pada tarian, tetapi sebagai laki-laki malu kalau menjadi penari. Akhirnya pilihan menjadi dalang diutarakan kepada ayahnya. Pilihan yang diambilnya pada waktu kelas 3 SD itu kelak membawanya menjadi seorang dalang sekaligus pengajar pedalangan di ISI Surakarta.

Ketika ayahnya mendengar cita-cita sang anak, lantas dipersiapkan sebuah lakon pendek dan mengajarinya beberapa minggu. Sang anak ternyata canthas, dengan cepat ia menyerap ilmu yang diajarkan ayahnya dan dengan mudah menghafalkan naskah yang disodorkannya. Usia 9 tahun, Bambang sudah melakukan pentas tunggal, memainkan lakon pendek selama 2 jam yang dibuatkan sang ayah. Dari ajaran, nasehat, dan bimbingan sang ayah yang masih membekas hingga kini adalah belajar tidak boleh meniru gaya orang lain. Ia harus mengembangkan sendiri. Kelas 5 Bambang diikutkan festival wayang remaja oleh ayahnya. Ki Martapangrawit, yang merupakan salah satu juri, memberikan komentar terhadap pertunjukannya bahwa gaya mendalangnya masih terlalu lembut.

Sejak itu, Bambang seakan tak terpisahkan dari sang ayah. Ia selalu mengikuti ayahnya mendalang ke daerah-daerah, termasuk di Jawa Timur, yang paling sering adalah Kediri dan Trenggalek. Sepak terjang Bambang terus berlanjut, hingga membawanya sampai Istana Negara pada tahun 1966 untuk menunjukkan kebolehannya di depan Presiden Soekarno. Pun, sewaktu masuk menjadi mahasiswa di Akademi Seni Karawitan Indonesia (sekarang Institut Seni Indonesia) Surakarta, selalu mendapat jatah mendalang oleh Gendhon Humardani untuk menyambut setiap tamu.

Sejak bergabung dengan almamaternya sebagai pengajar, ayah dari lima putra itu sempat larut dengan kegiatan kreatif. Ia turut bergabung dengan wayang Sandosa (wayang lebar menggunakan bahasa Indonesia), membuat lakon pakeliran padat, turut membidani wayang Budha, membuat wayang pawukon, wayang revolusi, wayang wahyu, mengkreasi berbagai bentuk gunungan, menatah dan menyungging wayang, dan lain-lain, yang menyita banyak waktunya untuk mendalang. Bahkan, ia sempat vakum untuk memainkan wayang semalaman penuh. Baru di tahun 1993 ia diminta secara khusus oleh panitia di wilayah Baki Sukoharjo, dalam rangka 17-an (17 Agustus) agar bersedia memainkan wayang semalam suntuk kembali. Dan, menjadi dalang ruwat baru setahun terakhir dijalaninya, termasuk ruwatan massal 10 Januari lalu.

Penahbisan sebagai dalang ruwat berbeda dengan Ki Manteb Soedarsono yang sering meruwat secara massal di TMII, Jakarta dan diberi gelar oleh sebuah lembaga sebagai dalang ruwat. Bambang menjadi dalang ruwat karena keberaniannya menjadi dalang ruwat. Selain itu direstui oleh tujuh dalang senior. Ketika Bambang meminta restu terhadap ketujuh dalang senior itu, mereka malah dengan senang hati datang ke Solo dan menyaksikan sendiri pertunjukan ruwatnya. Baginya menjadi dalang ruwat tidak hanya bertanggung jawab terhadap penanggap atau yang diruwat, tetapi juga kepada Tuhan Yang Maha Esa.

“Dulu sewaktu kakeknya meruwat, semua melakukan puasa termasuk pengrawitnya, tapi akhir-akhir ini tidak, hanya dalangnya sendiri yang nglakoni,” tutur suami Theresia Sri Haryani Purwaningsih itu menambahkan.

 

Mengalir

Dunia pewayangan ruwatan dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu ada yang menurut kepercayaan, pedalangan, dan ada pula agama. Siapapun dapat meruwat dengan cara masing-masing, ada yang dengan kepercayaan, cara pedalangan, maupun keagamaan. “Dulu saya pernah matur Rama Kuntara tentang bagaimana cara meruwat itu. Dan beliau menjawab tergantung trah seseorang. Trah saya tentu akan berbeda dengan cara meruwat trah dalang-dalang yang lain,” tutur Bambang. Pun demikian, akibat dari mereka yang terkena sukerta tetapi tidak melakukan ruwatan tergatung pada kepercayaan masing-masing. Bagi yang percaya, kecelakaan kecil, semisal sering jatuh dari tangga atau meledaknya termos (tempat air panas) adalah beberapa contoh dari akibat itu.

Wayang yang digunakan untuk meruwat pun ada beberapa dalang diantaranya menggunakan wayang-wayang jimat (memiliki tuah gaib) namun yang memainkan adalah dalang-dalang tertentu. Biasanya dipilih dalang yang secara jasmani maupun rohani sehat, memiliki lambaran batin kuat, dan ditunjuk oleh dalang sepuh (senior) atau dengan syarat-syarat tertentu. “Ada kejadian Ki Anom Suroto mendalang dalam rangka acara peringatan bulan Suro, memainkan wayang dari Keraton Surakarta, belum genap separo jalan suaranya habis. Ternyata Anom lupa memakai Gajah Oling (rangkaian bunga melati yang biasanya ditempatkan di telinga—seperti sumping) dan setelah memakai suaranya pulih kembali,” ceritanya.

Suatu kali Bambang menerima tanggapan namun si penanggap meminta lakon yang belum pernah didengarnya, yaitu Werkudara Mbendung Kali. Karena merasa belum pernah mendengar cerita lakon itu ia pun bertanya kepada si penanggap tetapi si penanggap pun tidak tahu. Akhirnya, karena sering membikin lakon pakeliran, ia pun tidak merasa kesulitan memainkan permintaan si penanggap itu. Dan ia percaya perkataan para leluhurnya: “apabila kita siap, semuanya akan tinggal ngeli (mengalir) saja, mau bicara apa seakan-akan wayangnya yang akan menuntun dalangnya,” kenangnya.

Namun, melihat kondisi pedalangan saat ini, kondisinya menjadi terbalik. Kuasa dalang terhadap wayang begitu mutlak. Dalang sedemikian rupa bergantung pada penanggap dan banyak  dalang cenderung larut pada permintaan pasar yang mengikis kandungan moral dan religinya. Dunia pedalangan saat ini seakan sudah menggapai titik nadir dalam bentuk pertunjukannya. Berbagai kreasi dan eksperimen begitu meruah, bahkan berbagai elemen seni masuk di dalamnya. Pertunjukan wayang hingga berkesan glamour, gemerlap, dan sumpek dengan jejalan aneka pertunjukan. Pun, penonton semakin susah membedakan pertunjukan wayang dengan lawak, campursari, atau bahkan dangdutan.

Kegelisahan Bambang Suwarno akhirnya mendapatkan tempat untuk curhat. Balai Soedjatmoko, Solo, memberikan tempat baginya untuk berekspresi berupa pergelaran wayang kulit klasik. “Pergelarannya dengan menggunakan blencong (lampu yang menyinari kelir/layar) berbahan bakar minyak kelapa, klasik menika mboten nggangge bonang, klasik menika mboten mawi bagong (klasik itu tidak memakai instrumen bonang, dan tidak ada tokoh Bagong). Namun, menurut saya ya tidak begitu, semua bisa berkembang tidak harus saklek seperti itu,” katanya mengakhiri.

Wawan Juanda
Pendidikan Untuk Penonton
Semua bermula dari hobi yang dibarengi ketekunan. Itulah yang membuat Wawan Juanda (51 tahun), terus bertahan di tengah kerumunan penonton yang membanjiri event besutannya. Perlunya pendidikan apresiasi bagi penonton menjadi sasarannya ketika berkecimpung di ranah industri pertunjukan ini. Seperti apa kiprah dan pandangannya?


 







SPECIAL EVENTS


AGENDA BUDAYA

  • Festival Benteng Ungaran 2010
  • Jagongan Media Rakyat 2010
  • Teater Malam Jahanam
  • Atraksi Seni Peringatan Satu Tahun Madya - (REVIEW)

  • INFO BUKU
     

    Kumpulan Esai Riau Pos

    Riak Lara Pantai Demak

    Antologi Obrolan

    Antara Panjak Hore dan Rock Progresif

    NEWS

  • Dedikasi dalam Imaji I Wayan Rai
  • Berlalunya Sebuah Era?
  • Seniman Sapto Raharjo Wafat
  • Obituari: Seniman Sapto Rahardjo Berpulang
  • Seniman Gamelan Sapto Rahardjo Meninggal Dunia

  •  
     GALERI FOTO
     

    Gerak Lucu Wayang Golek

    Gerak Mulut Wayang Sasak
     

    Sekar Diu - Wayang Sasak

    Topeng Cupak


      Copyright © 2008 Majalah Gong
      Jl. Nitikan Baru, Gang Aries No. 46, Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta 55161
      Telp/Fax: +62-0274-370830 | 081568445708
      E-mail: redaksi@gong.tikar.or.id

    Developed by: Satya Adirimata +62 818 650771, +62 21 991 45561. Email: adirimata@yahoo.com