Nasruddin Hoja barangkali adalah sosok jenaka yang paling sering diceritakan dan diceritakan ulang di Timur maupun Barat.
Alkisah, pada suatu hari Nasruddin menemukan seorang hakim yang sedang mabuk berat hingga semaput. Ia mengambil jubah dan toga sang hakim dan mengenakannya dengan bangga. Dengan jubah itu, ia berkeliling kota, masuk ke pasar, masjid, dan istana. Betapa jumawa perasaannya mengenakan jubah tersebut. Ia tatap hampir setiap orang dengan mata buas. Ia ejek orang-orang kecil yang melintas di jalan, berkerumun di pasar, atau bergerombol di depan rumah ibadah. Ia pikir seluruh tempat yang dilaluinya adalah ruang pengadilan. Orang-orang kecut dan gentar melihat kehadirannya, tapi juga bingung, heran, dan diam-diam mengejeknya.
Ketika siuman, si Hakim sadar jubah dan toganya telah hilang. Ia pun mengutus pelayan dan pengawalnya untuk mencari siapa yang telah mencuri pakaian kewibawaannya. Setelah berkeliling kota, mereka berhasil menangkap Nasruddin. Selain mencuri, Nasruddin juga didakwa mencemarkan nama baik si Hakim.
Nasruddin pun dihadapkan ke pengadilan. Si Hakim bertanya: “Dari mana kau mendapatkan jubah itu?” Nasruddin menjawab dari seorang laki-laki pemabuk, bodoh, dan tolol,” jawabnya. Ia siap mendatangkan beberapa saksi, siapa lelaki itu. “Aku tidak ingin mengetahui siapa lelaki yang mabuk itu. Pakai saja jubah ini sesuka hatimu. Bagiku tak penting, siapakah pemilik jubah tersebut,” jawab Si Hakim menutup sidang pengadilannya.
Nasruddin adalah wajah kita. Ia seorang bapak, suami, teman, tetangga, dan warga masyarakat, yang bisa baik, bisa juga jelek. Kadang menjengkelkan, tapi sering menyenangkan. Kelihatan bodoh tapi sesungguhnya cerdas sekali. Ia benci korupsi, ogah hipokrisi, dan sebal dengan gaya sok tahu. Ia menyindir pejabat yang korup, mengejek agamawan yang munafik, dan mentertawakan seorang terpelajar yang sombong.
Apakah sesungguhnya Nasruddin Hoja itu tokoh historis atau fiktif saja? Ini telah menjadi pokok bahasan Muhammad Rajab An-Najjar dalam Nasruddin Khoja: Riwayat, Filsafat, dan Kisah-kisahnya, yang menunjukkan bahwa sosok ini merujuk pada Dajin Bin Tsabit, kelahiran Fazarah dan hidup pada masa peralihan Dinasti Ummayah ke Abbasiyah. Karena kecerdasan dan kejenakaannya, sosok ini kemudian berkembang dalam banyak versinya: setidaknya ada versi Arab, Turki, dan Mesir.
Dalam pertumbuhannya inilah sosok ini muncul sebagai “tokoh lucu yang tampak bodoh tapi sebenarnya pintar” di dalam tradisi dongeng setiap negeri. Dalam hal ini, maka sosok “Nasruddin” bisa ditemukan di mana saja. Hampir setiap daerah di Nusantara memiliki sosok lebai seperti ini. Ada Kabayan di tatar Sunda, Palui di Kalimantan Selatan, atau Pan Balangtamak di Bali, untuk menyebut beberapa sampel. Seperti Nasruddin, sosok-sosok ini juga gemar mengganggu pejabat pemerintah atau pejabat agama yang sering menggertak dan menekan mereka. Tentu dengan cara yang tampak bercanda tapi sebenarnya serius, bodoh tapi cerdas, dan ringan tapi mendalam.
Sosok serupa ini kita temukan pula di Barat dalam banyak tampilan kontemporernya, terutama di dalam film. Mick Dundee (Crocodile Dundee, 1986) Forest Gump (Forest Gump, 1994), dan Mr. Bean (Bean, 1997), adalah sosok-sosok jenaka dan lucu, yang film-filmnya sangat digemari dan laris. Masing-masingnya menyindir dan mengejek rumitnya birokrasi pemerintahan, sopan santun kelas menengah kota, dan kehidupan modern yang absurd.
Rupa-rupanya tokoh seperti tak pernah ada habisnya. Baru-baru ini Bollywood menelurkan sosok jenaka Khan dalam film “My Name Is Khan.” Seperti telah menjadi fitrahnya, lewat tokoh Khan yang kelihatan tolol ini, film ini menyindir dan mengejek sikap paranoid pemerintah Amerika dan (sebagian) warganya dalam kampanye anti- terorisme.
Tokoh jenaka seperti ini kenyataannya memang selalu bisa menampilkan sisi buram dari wajah masyarakat kita. Dengannya kita diajak untuk mentertawakan diri sendiri, terdiam, lalu kemudian merenung: seburuk dan sebaik apakah “kita” ini sesungguhnya?
HAIRUS
SALIM HS