Beranda Tentang Kami Hubungi Kami Agen/Distributor Berlangganan Galeri Foto Merchandise Polling Blog Edisi:    
Selamat Datang di situs GONG, media seni-budaya Nusantara. - Di sini kami menyediakan pelbagai informasi, yang mudah diakses. - Saran dan kritik Anda kami tunggu, silakan klik HUBUNGI KAMI.
  Fasilitas Pencarian: advanced search Sabtu, 11 September 2010 | 06:25 WIB
 RUBRIK UTAMA
   Salam Budaya
   Dari Pembaca
   Sorot
   Sosok
   Wawasan
   Media
   Ensiklopedi
   Resensi
   Bingkai
   Panggung
   Sastra
   Anjungan
   Laku dan Cerita
   Tatap

 SOSOK
Pendidikan Untuk Penonton

 BINGKAI
Bantengan

 Polling
Jika Anda pembaca Gong, tulisan tentang apa yang paling diminati?
Wawasan kebudayaan melalui kajian seni
Berita keberagaman seni lokal
Kesenian dalam kehidupan masyarakat
Review dengan pendekatann estetika
Seni lokal yang diolah menjadi komersial
 

 Lihat hasil...

 
:: Anda berada di halaman: Tatap - Edisi: 119/XI/2010

Hoja

Nasruddin Hoja barangkali adalah sosok jenaka yang paling sering diceritakan dan diceritakan ulang di Timur maupun Barat.

Alkisah, pada suatu hari Nasruddin menemukan seorang hakim yang sedang mabuk berat hingga semaput. Ia mengambil jubah dan toga sang hakim dan mengenakannya dengan bangga. Dengan jubah itu, ia berkeliling kota, masuk ke pasar, masjid, dan istana. Betapa jumawa perasaannya mengenakan jubah tersebut. Ia tatap hampir setiap orang dengan mata buas. Ia ejek orang-orang kecil yang melintas di jalan, berkerumun di pasar, atau bergerombol di depan rumah ibadah. Ia pikir seluruh tempat yang dilaluinya adalah ruang pengadilan. Orang-orang kecut dan gentar melihat kehadirannya, tapi juga bingung, heran, dan diam-diam mengejeknya.

Ketika siuman, si Hakim sadar jubah dan toganya telah hilang. Ia pun mengutus pelayan dan pengawalnya untuk mencari siapa yang telah mencuri pakaian kewibawaannya. Setelah berkeliling kota, mereka berhasil menangkap Nasruddin. Selain mencuri, Nasruddin juga didakwa mencemarkan nama baik si Hakim.

Nasruddin pun dihadapkan ke pengadilan. Si Hakim bertanya: “Dari mana kau mendapatkan jubah itu?” Nasruddin menjawab dari seorang laki-laki pemabuk, bodoh, dan tolol,” jawabnya. Ia siap mendatangkan beberapa saksi, siapa lelaki itu. “Aku tidak ingin mengetahui siapa lelaki yang mabuk itu. Pakai saja jubah ini sesuka hatimu. Bagiku tak penting, siapakah pemilik jubah tersebut,” jawab Si Hakim menutup sidang pengadilannya.

Nasruddin adalah wajah kita. Ia seorang bapak, suami, teman, tetangga, dan warga masyarakat, yang bisa baik, bisa juga jelek. Kadang menjengkelkan, tapi sering menyenangkan. Kelihatan bodoh tapi sesungguhnya cerdas sekali. Ia benci korupsi, ogah hipokrisi, dan sebal dengan gaya sok tahu. Ia menyindir pejabat yang korup, mengejek agamawan yang munafik, dan mentertawakan seorang terpelajar yang sombong.

Apakah sesungguhnya Nasruddin Hoja itu tokoh historis atau fiktif saja? Ini telah menjadi pokok bahasan Muhammad Rajab An-Najjar dalam Nasruddin Khoja: Riwayat, Filsafat, dan Kisah-kisahnya, yang menunjukkan bahwa sosok ini merujuk pada Dajin Bin Tsabit, kelahiran Fazarah dan hidup pada masa peralihan Dinasti Ummayah ke Abbasiyah. Karena kecerdasan dan kejenakaannya, sosok ini kemudian berkembang dalam banyak versinya: setidaknya ada versi Arab, Turki, dan Mesir.

Dalam pertumbuhannya inilah sosok ini muncul sebagai “tokoh lucu yang tampak bodoh tapi sebenarnya pintar” di dalam tradisi dongeng setiap negeri. Dalam hal ini, maka sosok “Nasruddin” bisa ditemukan di mana saja. Hampir setiap daerah di Nusantara memiliki sosok lebai seperti ini. Ada Kabayan di tatar Sunda, Palui di Kalimantan Selatan, atau Pan Balangtamak di Bali, untuk menyebut beberapa sampel. Seperti Nasruddin, sosok-sosok ini juga gemar mengganggu pejabat pemerintah atau pejabat agama yang sering menggertak dan menekan mereka. Tentu dengan cara yang tampak bercanda tapi sebenarnya serius, bodoh tapi cerdas, dan ringan tapi mendalam.

Sosok serupa ini kita temukan pula di Barat dalam banyak tampilan kontemporernya, terutama di dalam film. Mick Dundee (Crocodile Dundee, 1986) Forest Gump (Forest Gump, 1994), dan Mr. Bean (Bean, 1997), adalah sosok-sosok jenaka dan lucu, yang film-filmnya sangat digemari dan laris. Masing-masingnya menyindir dan mengejek rumitnya birokrasi pemerintahan, sopan santun kelas menengah kota, dan kehidupan modern yang absurd.

Rupa-rupanya tokoh seperti tak pernah ada habisnya. Baru-baru ini Bollywood menelurkan sosok jenaka Khan dalam film “My Name Is Khan.” Seperti telah menjadi fitrahnya, lewat tokoh Khan yang kelihatan tolol ini, film ini menyindir dan mengejek sikap paranoid pemerintah Amerika dan (sebagian) warganya dalam kampanye anti- terorisme.

Tokoh jenaka seperti ini kenyataannya memang selalu bisa menampilkan sisi buram dari wajah masyarakat kita. Dengannya kita diajak untuk mentertawakan diri sendiri, terdiam, lalu kemudian merenung: seburuk dan sebaik apakah “kita” ini sesungguhnya?


HAIRUS SALIM HS



 







SPECIAL EVENTS


AGENDA BUDAYA

  • Festival Benteng Ungaran 2010
  • Jagongan Media Rakyat 2010
  • Teater Malam Jahanam
  • Atraksi Seni Peringatan Satu Tahun Madya - (REVIEW)

  • INFO BUKU
     

    Kumpulan Esai Riau Pos

    Riak Lara Pantai Demak

    Antologi Obrolan

    Antara Panjak Hore dan Rock Progresif

    NEWS

  • Dedikasi dalam Imaji I Wayan Rai
  • Berlalunya Sebuah Era?
  • Seniman Sapto Raharjo Wafat
  • Obituari: Seniman Sapto Rahardjo Berpulang
  • Seniman Gamelan Sapto Rahardjo Meninggal Dunia

  •  
     GALERI FOTO
     

    Gerak Lucu Wayang Golek

    Gerak Mulut Wayang Sasak
     

    Sekar Diu - Wayang Sasak

    Topeng Cupak


      Copyright © 2008 Majalah Gong
      Jl. Nitikan Baru, Gang Aries No. 46, Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta 55161
      Telp/Fax: +62-0274-370830 | 081568445708
      E-mail: redaksi@gong.tikar.or.id

    Developed by: Satya Adirimata +62 818 650771, +62 21 991 45561. Email: adirimata@yahoo.com