Belum lama, saya
mendapat tugas tematik dalam sebuah forum untuk mendiskusikan sebuah keadaan:
Belajar kepada sastra, bercermin kepada budaya. Sejauh mana sastra dianggap penting,
di tengah masyarakat yang tengah mengalami gegar-budaya? Apakah sastra bisa
sebagai sumber rujukan persoalan, sementara di sisi lain terjadi percepatan material dan
industrial? Serta sederet pertanyaan yang kerap diajukan, tapi tetap sulit dijawab.
Apa yang dapat
saya katakan? Tidak banyak, kecuali sebuah kalimat pembuka: Belajar kepada
sastra berarti belajar kepada kehidupan. Kenapa? Karena karya sastra merupakan
saripati kehidupan. Para kreator sastra, melalui proses kreatifnya, mengolah
hal-hal yang
menarik untuk dijadikan teks sastra; bagai seorang koki ia mengolah bahan dan bumbu, lalu
terciptalah menu-menu kehidupan untuk dihidangkan kepada kita, pembaca, dengan rasa yang
nikmat dan enak....tapi tidak!
Sebagai koki
kreatif, yang selalu bergulat dengan kehidupan sosialnya, sering kali hidangan sang
kreator “tidak enak”; kadang ia sinis menuding, kalimatnya tajam mengiris, kata-katanya
sulit, temanya berat, konfliknya tinggi, karakter tokoh sukar ditebak, ceritanya berbelit, kadang
keluar dari norma umum, sehingga pembaca yang menginginkan hiburan sesaat, akan
kelabakan. Maka, secangkir “kopi puisi” terasa pahit, meski mengandung ketulusan: supaya
dapat kau ceritakan pada mereka perihal dada yang terhimpit ini:/dada seorang ibu yang
tak sempat melihatmu menangis atau sekedar tersedu. sebab baginya/kaki-kaki kursi yang
diinjakkan pada kuku-kuku kaki suaminya tak pernah benar-benar/mengenal rasa sakit: oleh
luka maupun oleh kepergian yang dipaksakan. ia ingin mengutuki/dirinya jadi batu atau
serumpun pohonan bambu tempat putri tanah ini terlahir. ia ingin/menjadi jembatan, tempat
anak-anaknya menyebrangi cita-cita tanpa tangan kekar sang ayah/namun suara tertahan
dari leher tercekik tak sempat memandunya berdoa”.
Buton, di tangan
seorang “koki” sastra bernama Irianto Ibrahim, terasa lain. Dalam bait puisi
“Sekantong Luka dari Seorang Ibu” di atas, ia tidak menghadirkan keindahan alam Buton dengan laut
dan bukit-bukit karangnya, dinding-dinding kraton Wolio yang katanya terluas di dunia,
atau kota Bau-bau yang terus menggeliat. Namun ia mengambil sesuatu yang terlupakan dari
Buton; pahitnya sejarah tahun 1969. Lewat sosok seorang ibu, ia hadirkan kembali
penggalan-penggalan kisah perih itu, dan sang ibu menjadi wakil dari kepedihan Buton, kepedihan
kita semua. Tentu, Anda tidak akan merasakan itu sebagai “menu” yang mengagetkan lidah
dan perasaan, jika Anda tidak memiliki cantelan referensial tentang apa yang terjadi di
Buton pada tahun itu. Seorang pembaca, dituntut sama kreatifnya dengan koki sastra, jika ia
ingin mendapatkan sesuatu yang berbeda dari kehidupan yang belakangan semakin monoton
saja oleh penyeragaman industri dan kapitalisasi ini.
Itu sebabnya, ketika
seloka, pantun dan segala norma masih kuat melekat, Chairil Anwar muncul
dengan “menu” ritual, “Di Masjid” yang mengagetkan: Kuseru saja Dia/Sehingga
datang juga//Kami pun bermuka-muka//Seterusnya Ia bernyala-nyala dalam dada/Segala daya
memadamkannya//Bersimbah peluh diri yang tak bisa diperkuda//Ini ruang/Gelanggang
kami berperang//Binasa-membinasa/Satu menista lain gila//”
Di tangan Chairil,
proses pencarian Tuhan tidaklah dengan anggur yang memabukkan atau manisnya
sari kurma, melainkan dengan proses yang menghentak, menyala-nyala. Tidak dengan ketakziman
umum, tetapi langsung “bermuka-muka”. Masjid bukan ruang hening dingin tempat
doa-doa hapalan dipanjatkan, namun “gelanggang kami berperang”.
Mengapa seorang
sastrawan berbeda menghadirkan olahannya dengan koki pop konvensional? Tentu saja,
karena jauh sebelum mengolahnya, seorang sastrawan tidak menemukan begitu saja
dirinya sebagai seorang koki, yang mengolah semua bumbu, rempah dan bahan
kehidupan itu, namun pertama-tama ia adalah pengumpul bahan yang tekun, sebanyak-banyaknya,
dengan berbagai cara dan upaya. Pengalaman hidup, peristiwa peristiwa yang ia
alami atau saksikan, bacaan dan referensi, pergaulan dan jaringan, riset atau penelitian, dan
seterusnya, merupakan hal-hal yang perlu mereka miliki, sehingga benar kata Subagio Sastrowardoyo,
“Sastrawan tidak lahir dari ruang hampa”.
Namun demikian,
dari begitu banyak bahan yang ia punya, seorang pengarang adalah juga koki yang
cermat memilah bahan, memilih bumbu dan rempah, sehingga tidak semua hal bisa ia
tuangkan dengan serta-merta, tanpa jalan pengendapan, kontemplasi, atau secara teknis menyangkut
penyuntingan. Banyak karya sastra menjadi gagal karena sebagai koki, si pengarang
berhasrat memasukkan semua bahan, semua bumbu, sehingga yang muncul hanyalah fragmen,
verbalitas, dan streotipe.
Memang benar, sastrawan
lahir dari lingkungan sosial, kultural dan sejarahnya, namun sekaligus bergulat
dengan semua itu, lewat pelbagai hal: dialog, tawar-menawar, merekonstruksi,
menggali, mempertanyakan kembali, atau mencipta sejarah baru. Dengan demikian, seorang
sastrawan tidak mengikut arus utama (mainstream), pusaran yang menyeret banyak
orang, tetapi ia, seturut Octavio Paz,”membawa suara lain, the other”, meskipun suara
lain itu beresiko bakal senyap. Tapi menurut Khalil Gibran pula, “ia bagai senandung lirih
di padang pasir, sunyi, tapi pasti ada yang mendengar.” Atau dalam konteks Chairil Anwar,
sebagaimana dinyatakan Asrul Sani atau HB Jassin, “Sastrawan itu sebagai jiwa zaman, zeetgezet.”
***
Karena itu, tidak
diragukan lagi, karya sastra yang baik adalah tempat kita belajar banyak hal, dan
itu jauh lebih menarik dan asyik. Kita tahu, sebagai karya kreatif, sastra menjadi unik
setidaknya atas dua hal. Pertama, dari sisi kepengarangan ada lisensi-puitika; seorang pengarang
mempunyai hak ke luar dari bahasa baku jika memang itu dirasa perlu, mendobrak pakem
dan konvensi, namun tanpa kehilangan unsur komunikasinya. Kedua, dari sisi pembaca, ada
ruang interpretasi, di mana setiap pembaca memiliki tafsir atas bacaannya, tapi tentu juga
memahami limit-interpretasi.
Berdasarkan yang
pertama, kita sangat menerima eksprimen-eksprimen yang tercatat dalam khazanah
sastra nasional kita, seperti Sutardji Calzoum Bachri dengan kredo “puisi mantra”-nya,
Danarto dengan cerpen-cerpen sufistik ala Jawa (Kejawen), Putu Wijaya yang mengoarkan “teror
mental” atau Joni Ariadinata yang menaturalisasi dunia rekaan. Akan tetapi, di sisi
lain, jauh lebih banyak lagi pengarang yang tidak secara ekstrem memanfaatkan lisensi-puitika ini, toh karya-karyanya tetap abadi sebab memang digarap dengan baik,
mulai dari AA Navis, Kuntowijoyo, Mochtar Lubis, sampai Seno Gumira Ajidarma.
Dari sisi pembaca,
berkat ruang interpretasi yang luas, seseorang bisa belajar banyak hal dan memetik
hikmah dari teks sastra yang dibacanya, tanpa merasa digurui. Kita tahu, teks sastra tidak
bersifat dogmatik, tapi dimensional dan universal. Itulah sebabnya, kita bisa lebih paham
sejarah dan budaya suatu bangsa lewat sebuah novel ketimbang diktat sejarah dan antropologi
di sekolah-sekolah. Untuk memahami penderitaan pribumi dalam penindasan kolonial, bagi
saya jauh lebih jernih dan kompleks lewat Max Havelar: Adinda dan Saijah karya Multatuli
dan tetralogi Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Tour.
Pada zaman
transisi pemerintahan Belanda-Jepang, peristiwa di seputar itu tertuang sangat liar dalam
cerpen-cerpen Idroes dalam Dari Ave Maria: Tak Satu Jalan ke Roma atau novel Dan
Perang pun Usai karya Ismail Marahimin. Sejarah pergolakan 1965 yang dramatik, bisa
kita selusuri ulang dalam cerpen-cerpen Martin Aleida, novel Anak Tanah Air Ajip Rosidi, atau
di sejumlah puisi penyair Lekra/eksil Indonesia seperti Agam Wispi dan Putu Oka Sukanta.
Ke luar, kita juga akan lebih paham sejarah dan budaya bangsa-bangsa Arab dan Romawi
misalnya lewat novel-novel Amin Maalouf; sejarah Turki Otoman lewat novel Orhan
Pamuk; pergulatan manusia dan bangsa-bangsa Eropa lewat karya-karya Anton Chekov, Frans
Kafka, Alexander Dumas sampai Milan Kundera. Kita juga bisa lebih jernih melihat identitas
dan pergulatan bangsa-bangsa Afrika lewat novel Achanue Achebe, Emile Sola, Fanon;
psikologis masyarakat Mesir lewat karya Nadjib Mahfudz; sejarah kemerdekaan India lewat novel
Salman Rusdhie, Anak-anak Malam, atau tentang India hari ini melalui karya-karya
pengarang diaspora Anita Desai dan Jhumpa Lahiri, termasuk sejarah kontemporer
Malaysia dari cerpen-cerpen Karim Raslan.
Ya, karya sastra
adalah juga kaca benggala kebudayaan suatu bangsa. Sikap hidup bangsawan Jawa
misalnya, dapat kita lihat dalam Para Priayi-Umar Kayam atau Burung-burung Manyar-YB Mangunwijaya; eksotisme dan ironisme budaya Jawa pedalaman dapat kita baca dalam Ronggeng
Dukuh Paruk-Ahmad Tohari; ironisme budaya matrilinial di Minangkabau dalam
novel-novel Hamka; pergulatan budaya Bali antara bangsawan dan hamba sahaya dapat
kita lihat dalam karya Oka Rusmini atau cerpen-cerpen Gde Aryantha Soethama. Dalam
konteks karya sastra, sisi budaya ini boleh jadi akan merujuk perbincangan tentang lokalitas
dalam sastra, meski pula sebenarnya budaya tidak hanya terbatas pada lokalitas, dan
yang lokalitas pun tidak semata etnisitas.
Pendek kata, belajar kepada sastra hakikatnya
belajar pada kehidupan; sedangkan kehidupan merupakan ranah luas tempat persemaian berbagai kebudayaan.
Dari sanalah lahir kata, dan ilham tak habis-habis ditimba...